MENGUPAS TUNTAS TIPS “DIET SEHAT BAGI PASIEN KANKER”

274

Bagi pasien kanker mengatur pola makan sehat demi mendukung efektivitas terapi adalah tantangan yang cukup sulit dilakukan. Berbagai hambatan kerap dilalui, mualai dari efek mual muntah akibat kemoterapi, kondisi tubuh yang lemas hingga menyebabkan menurunnya nafsu makan. Seluruh hambatan dapat diatasi dengan diet yang tepat.

Sabtu (12/06) tim paliatif menggelar seminar online berjudul “Diet Sehat Pasien Kanker” bersama seorang dokter spesialis giziklinik, dr. Noviani, Sp.GK. Seminar ini bertujuan menjawab keresahan pasien tentang cara mengatuh pola dan kebiasaan hidup sehat. Tidak hanya bagi pasien kanker, ‘seminar ini juge diikuti oleh berbagai kalangan, baik keluarga/ caregiver, tenaga kesehatan, mmahasiswa dan pemerhati kanker.

Seminar online paliatif dilakukan secera virtual melalui zoom dan disiarkan langsung di youtube Cahnnel @Gerwita Institute. Kliklink di bawah ini untuk menonton live record youtube.

http://bit.ly/youtubepaliatif

Hut Garwita ke 10 “Kesehatan Mental Remaja & Dewasa Muda”

186

Untuk merayakan ulang tahun ke sepuluh Garwita Institute, kami mengadakan webinar series dengan topik Kesehatan Mental Remaja dan Dewasa Muda. Diadakan tanggal 28 Mei-4 Juni 2021. Materi setiap webinar dapat diakses melalui link di bawah ini. Terimakasih atas dukungan teman-teman selama sepuluh tahun terakhir! Semoga ke depannya Garwita Institute dapat membantu dan memberi manfaat lebih banyak orang.

 

Konsep Diri dan Gangguan Makan (1)

Cabin Fever, Depresi, & Adiksi Gadget-1

Penanganan Psikososial pada Narkoba

Trend Menikah Muda

BUKU BICARA SEKS DENGAN ANAK SUDAH TERBIT

841

Pemberian edukasi seksual sejak dini bukan lagi menjadi hal yang jauh dari kita atau hal yang aneh, melainkan sudah menjadi kebutuhan mendesak.

Mengapa demikian?
Edukasi seksual tidak hanya bertujuan memberikan skill pada anak untuk menhindari kekerasan seksual, tetapi juga membekali anak dengan kemampuan untuk secara tegas menolak aktivitas seksual berisiko serta mengambil keputusan bijaksana terkait tubuhnya sendiri dengan tetap menghargai diri & orang lain.

Apa yang diberikan pada anak?
Edukasi diberikan pada anak sesuai dengan perkembangan usianya, karena usia akan mempengaruhi kemampuan berpikir & perkembangan psikososial mereka.

Bagaimana menjawabnya?
Apa jawaban Anda bila seorang anak usia 4tahun bertanya,
“Pa, dede bayi itu keluar dari mana?”
atau anak usia 6tahun bertanya,
“Bagaimana dede bayi bisa ada di perut mama?”
atau anak usia 11tahun bertanya
“Ma, apa itu perkosaan?”

Jawaban yang diberikan orang tua akan membangun cara berpikir anak mengenai seksualitas, cinta, & tanggung jawab. Jawaban juga akan menentukan apakah anak akan segan bertanya lagi karena dimarahi, membangun komunikasi terbuka dengan orang tua, atau memutuskan mencari informasi tentang seksualitas melalui internet karena sekarang segalanya sudah berada dalam genggaman.

Yuk, kita, para orang tua & orang dewasa di sekitar anak, belajar lebih lanjut agar bisa mendampingi anak & bereksplorasi bersama mereka.

Buku Bicara Seks dengan Anak
Buku ini bukanlah sebuah kamus edukasi seksual, melainkan menjadi ajakan bagi para orang tua untuk memulai proses belajar memberikan edukasi seksual yang tepat bagi anak.

Bagaimana mendapatkannya?
WA Admin Garwita +62 878-1921-4418
atau
DM Instagram @garwitainstitute

Jangan sampai kehabisan, ya!

Penulis membuka kesempatan bagi para pembaca untuk bertanya, berdiskusi, maupun berkomentar tentang isi buku dengan mengirimkan email ke info@garwitainstitute.org atau DM Instagram @garwitainstitute

VIRTUAL RELAXATION: AN ALTERNATIVE METHOD FOR CANCER PATIENTS STRESS MANAGEMENT

438

Psychological conditions, in general, have a very important role in supporting the cancer patient therapy. Various things can trigger stress that affects the patient’s psychological condition while undergoing treatment. In dealing with psychological problems, it is necessary to have good coordination between patients, families, and health practitioners to keep the patient’s condition stable during treatment. One of the methods of stress management that can be done by patients and their families is a relaxation program.

To solve psychological problems in cancer patients, the palliative team held Virtual Relaxation Program. This program was carried independently by the patients and their families in their respective homes under the direction of the palliative team. In collaboration with Mrs I Gusti Ayu Karnasih, M. Kep, Ns. Sp. Kep Mat, Garwita Institute designed relaxation recordings that were made and customized to the conditions of the patients.

The palliative team and volunteers did an assessment as an initial stage and also a post-relaxation assessment to know the patients’ conditions further. Some patients became calmer after the program. Besides, the feeling of anxiety towards the disease also gradually decreased after undergoing the relaxation regularly. Based on the interim evaluation, the palliative team will continue to study and conduct research to produce relaxation records that can be useful for many more cancer patients.

TETAP PRODUKTIF & SEHAT MENTAL

405

Pandemi yang sudah berjalan selama 8 bulan memberi dampak bagi pekerja, salah satunya stres kerja.

Stres kerja merupakan kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikologis sehingga mempengaruhi kondisi pekerja. Untuk mengatasi masalah ini pekerja bisa melakukan regulasi terhadap diri sendiri.

Penjelasan mengenai kondisi stres dibahas dengan jelas dan menarik oleh dr. Dewi Prisca Sembiring, Sp.KJ dalam webinar yang diadakan oleh Garwita pada hari Jumat, 6 November 2020 melalui aplikasi zoom meeting. Tidak hanya itu, dalam webinar ini, Mieke Prasetyo, M.Psi, Psikolog juga mengupas metode regulasi diri dan hidup produktif.

Sahabat Garwita bisa mengakses rekaman dan materi melalui link di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=pmQtr0iTeok&t=3115s

webinar_kesmen_dpriscaSPKJ

Webinar Sehat Bahagia

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 2)

658

oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog

 

  1. Pengertian & manfaat perawatan paliatif

Paliatif berasal dari bahasa Latin, palliare, yang secara harfiah berarti menyelubungi atau melindungi. Perawatan paliatif sendiri didefinisikan secara berbeda oleh beberapa pihak tetapi pada intinya definisi tersebut serupa. National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), Inggris, mendefinisikannya sebagai berikut :

“Palliative care is the active holistic care of patients with advanced progressive illness. Management of pain and other symptoms and the provision of psychological, social and spiritual support is paramount. The goal of palliative care is the best possible quality of life for patients and their families.”

(NICE dalam Buckley, 2008)

 

Istilah advanced progressive illness atau life-threatening illness dalam perawatan paliatif dapat merujuk pada penyakit apapun yang diderita pasien dalam jangka waktu panjang, dimana penyakit terus berkembang, membuat kondisi fisik pasien memburuk tanpa penanganan yang tepat, serta mengancam keselamatan jiwa pasien. Termasuk di dalamnya adalah kanker, gagal ginjal, stroke, Alzheimer, AIDS, dan lainnya. WHO (dalam Imanuel & Librach, 2007) menambahkan dalam definisi perawatan paliatif bahwa perawatan tersebut haruslah :

  • Mengurangi rasa nyeri dan meredakan tingkat distress pasien
  • Menguatkan dan membuat pasien memandang kematian sebagai suatu proses normal
  • Tidak berintensi memperpendek atau memperpanjang usia hidup
  • Mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual
  • Menawarkan sistem support yang membantu pasien tetap hidup seaktif mungkin sampai hari kematiannya tiba
  • Menawarkan sistem support untuk membantu keluarga pasien cope dengan penyakit pasien dan dengan rasa berduka mereka
  • Menggunakan pendekatan kerja tim untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarganya
  • Meningkatkan kualitas hidup dan secara positif mempengaruhi pasien dalam menjalani penyakitnya
  • Dapat diaplikasikan sejak awal penyakit dideteksi, sebagai pendamping terapi lainnya yang bertujuan mempertahankan hidup pasien, misalnya kemoterapi.

Di samping itu, adapula yang membedakan antara perawatan paliatif dan perawatan hospice. Diane Meier (2010), Direktur Center to Advance Palliative Care, Mount Sinai School of Medicine, menyatakan bahwa perawatan paliatif dapat disediakan kapanpun, bahkan sejak awal pasien menerima diagnosis dan dilaksanakan bersamaan dengan treatment kuratif. Perawatan paliatif juga dapat dilakukan tidak terbatas pada penyakit terminal. Sementara itu, perawatan hospice lebih fokus pada penyakit terminal, dimana tidak ada lagi treatment yang dapat membantu kesembuhan.

Pada dua definisi di atas, terdapat istilah quality of life atau kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup pasien merupakan tujuan utama perawatan paliatif. Apa arti kualitas hidup dan bagaimana mengukurnya? Ada banyak aspek yang dapat dikatakan sebagai faktor penentu kualitas hidup. David Weissman (2009) mengatakan bahwa konsep kualitas hidup seringkali digunakan ketika pasien, keluarga pasien, dan petugas kesehatan (dokter maupun perawat) mencoba memahami efek dari penyakit kronis. Menurut Weissman, terdapat dua konsep utama dari kualitas hidup, yaitu :

  1. Bersifat multidimensional meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
  2. Hanya dapat ditentukan oleh pasien (bersifat subjektif)

Asesmen mengenai kualitas hidup seseorang dapat diperoleh gambarannya dengan memahami “dunia” pasien dalam beberapa aspek, yaitu fungsi fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi  sosial, dan concern spiritual atau eksistensial. Walau bersifat subjektif, kualitas hidup dapat diperoleh gambarannya menurut suatu standar tertentu yang telah disepakati.

 

 

  1. II. Apa yang dapat dilakukan di rumah sakit?

“Knowledge speaks, but wisdom listens.”

(Jini Hendrix)

II.1. Pelaksanaan yang ideal

Menurut Maria A. Witjaksono (2010), dalam pelaksanaan perawatan paliatif ada beberapa pihak yang idealnya terlibat, yaitu :

  • Dokter
  • Perawat
  • Ahli gizi
  • Relawan
  • Terapis
  • Pekerja sosial medis
  • Pendamping atau pemimpin spiritual

Semua pihak tersebut hendaknya bekerja sama dan memiliki pola komunikasi yang efektif agar pelayanan memperoleh hasil yang optimal pada pasien.

Secara umum, proses yang dilakukan dalam perawatan paliatif serupa dengan intervensi lainnya yaitu meliputi asesmen kondisi dan kebutuhan pasien serta caregivernya, intervensi, dan evaluasi. Untuk setiap tahapan proses tersebut terdapat berbagai pilihan metode yang belum dibahas dalam artikel ini. Metode-metode tersebut harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan ketersediaan sumber daya manusia serta fasilitas rumah sakit.

II.2. Merintis perawatan paliatif di rumah sakit

Penulis, yang berprofesi sebagai psikolog klinis dan memiliki pengalaman sebagai anggota keluarga dari penderita kanker payudara dan kanker hati stadium lanjut yang dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu sangat panjang, merasakan pentingnya dukungan psikologis bagi pasien dan keluarga. Dukungan psikologis menjadi penting karena penyakit tersebut berpotensi tidak saja memporak-porandakan kehidupan pasien, tetapi juga seluruh anggota keluarga. Selain itu, dari observasi penulis tampak pula bahwa kondisi psikologis yang lebih positif, seperti merasakan kepuasan, optimis, ataupun penerimaan diri, yang dapat dikembangkan melalui perawatan paliatif, menjadi kekuatan bagi pasien tentunya di samping perawatan medis.

Namun penulis menyadari bahwa secara praktis terdapat hambatan untuk menerapkan perawatan paliatif di sebuah rumah sakit. Hambatan tersebut meliputi ketersediaan sumber daya manusia dan fasilitas rumah sakit, courage untuk memulai suatu pelayanan baru yang semula dinilai tidak krusial, sampai pada hambatan dalam hal finansial. Namun demikian, pihak rumah sakit dapat mulai menginventarisasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan pelayanan yang lebih optimal pada pasien dan caregivernya, dimana salah satunya adalah dengan menerapkan perawatan paliatif. Dengan demikian segala hambatan yang ada dapat dipandang sebagai tantangan untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit. Mempertimbangkan kondisi tersebut, penulis mengajukan suatu ide untuk merintis spirit perawatan paliatif dimulai dari sebuah layanan yang dapat bermanfaat bagi pasien namun tidak membebani pihak rumah sakit secara finansial.

Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan jasa psikolog yang adalah karyawan rumah sakit untuk melakukan pendampingan psikologis bagi pasien rawat inap. Kebutuhan akan pendampingan ini merupakan hasil observasi dan rujukan dokter yang merawat pasien disertai persetujuan pihak keluarga pasien. Pelaksanaan pendampingan dapat dilakukan sepanjang jam kerja psikolog di rumah sakit tanpa pasien dipungut biaya lebih dan selama pasien masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Bila tenaga psikolog yang tersedia di rumah sakit terbatas, pelayanan dapat ditujukan pada skala kecil terlebih dahulu, yaitu bagi pasien rawat inap yang sangat membutuhkan, misalnya pasien dengan penyakit AIDS, gagal ginjal, dan stroke. Bersamaan dengan pemberian layanan ini, dapat dilakukan pula sebuah penelitian dalam skala kecil untuk memahami efek dari perawatan paliatif bagi pasien rumah sakit.

Ide ini masih sangat dini. Masih akan dibutuhkan penyusunan rencana yang komprehensif dan matang. Namun ide ini merupakan jalan yang dapat ditempuh untuk meraih manfaat lebih, tidak hanya bagi pasien dan caregivernya, tetapi juga bagi pihak rumah sakit yang selalu ingin meningkatkan kualitas pelayanan. Layanan ini akan menjadi pendukung tercapainya sebuah service excellent di rumah sakit dimana kepuasan pasienlah yang menjadi parameter, bukan kepuasan pihak pemberi jasa. Ditekankan pula di sini bahwa penerapan paliatif akan menjadi sebuah proses yang selalu memerlukan evaluasi dan pembaruan, seperti halnya pelayanan lainnya di rumah sakit.

 

Referensi

Buckley, J. B. 2008. Palliative Care : An Integrated Approach. John Wiley & Sons, Ltd. : Chichester.

McDermott, E. 2005. Advocating Hospice and Palliative Care (Report of the 2nd Global Summit of National Hospiceand Palliative Care Associations). Lancaster University : UK.

Meier, D. 2010. “What is Palliative Care”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/what-is-palliative-care pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Susilo, N. 2010. “Sunaryadi dan Rasa Nyeri Penderita Kanker”. Kompas. 15 Februari 2010.

Weissman, D. 2010. “Quality of Life”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/quality-of-life pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Witjaksono, M. A. 2010.”Menyembuhkan rasa sakit dengan hati”. Saji. 5-14 Desember 2010.

 

 

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 1)

921
oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog 

Pengantar

“In some respects, this century’s scientific and medical advances have made living easier and dying harder.”

(Cassel CK and Field MJ dalam Emanuel & Librach, 2007)

Penelitian di Amerika Serikat memperkirakan bahwa pada tahun 2050, 22% dari populasi pasien di sana akan hidup sampai usia 85 tahun atau lebih dan akan menghabiskan waktu 3 hingga 6 tahun sisa hidup dengan penyakit progresif (Blank & O’Mahony, 2007). Sementara itu, data Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Indonesia (2010) menunjukkan peningkatan usia harapan hidup. Jika pada tahun 2010 angka usia harapan hidup adalah sebesar 67.4 tahun, di tahun 2020 diperkirakan adalah sebesar 71.1 tahun. Data tersebut di satu sisi menunjukkan bahwa usia harapan hidup di beberapa tempat di dunia mengalami kenaikan karena semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, namun di sisi lain peningkatan usia harapan hidup belum tentu diiringi peningkatan kualitas hidup itu sendiri.

Untuk dapat mempertahankan hidup, banyak pasien dan keluarganya mengeluarkan biaya sangat tinggi. Hal ini terutama dilakukan oleh pasien-pasien penderita penyakit kronis yang melakukan segala upaya untuk dapat pulih. Namun demikian, karena kebutuhan pasien bersifat multidimensional, muncul banyak laporan atas pelayanan kesehatan yang dipandang pasien tidak sesuai harapan mereka. Oleh karena itu, muncullah sebuah paradigma baru yaitu perawatan paliatif (Teno, Emmanuel, & Desbiens dalam Blank & O’Mahony, 2007).

Paradigma perawatan paliatif menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup pasien dan caregivernya. Konsep kualitas hidup memang bersifat subjektif. Tetapi yang menjadi fokus perawatan paliatif adalah melakukan improvement manajemen rasa sakit; mengefektifkan komunikasi pemberi layanan kesehatan, pasien, dan caregiver; serta memenuhi kebutuhan pasien yang bersifat multidimensional dari sudut fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Lebih jauh lagi, pemberi layanan kesehatan juga menjalin kerja sama dengan pekerja sosial guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Bagi pasien penderita penyakit kronis yang sangat kecil kemungkinannya untuk dapat pulih, perawatan paliatif melihat kemungkinan untuk berbuat sesuatu lagi jika pasien kehilangan harapan. Walaupun tidak ada cure (pengobatan) yang dapat menolong, tetapi harus diberikan care (perawatan atau asuhan) sebaik-baiknya. Karena itu, fokus pelayanan tidak lagi atau tidak hanya pada tindakan medis yang lebih canggih supaya pasien pulih, tetapi tindakan tersebut lebih diarahkan pada menghilangkan nyeri. Tujuannya adalah agar pasien penyakit terminal tetap dalam keadaan nyaman dan bahkan dapat meninggal dunia dengan tenang (Bertens, 2009).

Sejarah & perkembangan perawatan paliatif

“Yesterday is a history, tomorrow is a mystery. But today is a gift. And that’s why we call it present.”

(Film Kungfu Panda)

Pada tanggal 14 Juli 2005, dokter Cicely Saunders meninggal dunia di Inggris dalam usia 87 tahun. Kematiannya dikenang dan dikomentari dalam media massa di seluruh dunia, karena sudah lama ia mempunyai nama internasional. Saunders untuk seterusnya diingat sebagai pencetus hospice movement atau gerakan hospitium modern. Pada tahun 1967 ia mendirikan St. Christopher’s Hospice di Sydenham, London, dan selama 18 tahun menjadi direktur medisnya. Konsep “hospitium” terutama mengalami sukses karena di banyak tempat ternyata sangat dibutuhkan (Bertens,2009).

Kini hospice atau “hospitium” dimengerti sebagai tempat yang menampung pasien dengan penyakit terminal yang tidak mungkin sembuh lagi. Kebanyakan pasien adalah penderita kanker, tetapi adapula penyakit kronis lainnya. Tanpa harus memfokuskan diri pada kerja peralatan medis yang canggih untuk mempertahankan hidup pasien, tujuan perawatan hospice adalah memberikan rasa nyaman bagi pasien dan mengurangi rasa sakit yang diderita (pain control). Dengan demikian, hidup yang masih dimiliki dapat dijalani dengan lebih bermakna.

Dari semula, Saunders memahami bahwa untuk mewujudkan tujuan tersebut, perawatan hospitium akan meliputi urusan yang tidak hanya medis. Perawatan harus bersifat holistik, meliputi aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Ia juga mengerti bahwa perawatan ini memerlukan profesionalisme khusus. Karena itu, Saunders yang memulai karirnya sebagai perawat, lalu menempuh studi kedokteran di usianya yang ke-34. Jasa besar Saunders diakui dengan penghargaan yang diperolehnya dari dalam dan luar negeri. Dengan perawatan hospice, Saunders meletakkan dasar untuk perawatan paliatif. Berkat usahanya, kedokteran paliatif menjadi suatu spesialisasi yang berkembang di Inggris. Sekarang hampir semua rumah sakit di sana memiliki bagian paliatif dan sebanyak 80% pasien rawat inap yang membutuhkan perawatan paliatif telah menerimanya. Diharapkan lebih banyak lagi rumah sakit di dunia menerapkannya sebab perawatan paliatif harus menjadi bagian dari setiap sistem pelayanan kesehatan yang bermutu  (Bertens, 2009).

Pada perkembangannya, belum ada data lengkap mengenai program hospitium di seluruh dunia. Sebuah survei tahun 1995 menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada 31 negara di dunia telah memiliki perawatan ini. Namun survei tersebut belum mengikutsertakan Indonesia (Bertens, 2009). Sebenarnya Indonesia telah memulai gerakan perawatan paliatif pada tahun 1990 di RSUD Dr. Soetomo, dimana terdapat Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri dengan Prof dr R Sunaryadi Tejawinata SpTHT-KL (KOnk) yang berperan sebagai pembina (Kompas, 15 Februari 2010). Hingga saat ini masih sangat sedikit rumah sakit di Indonesia yang menjalankan perawatan paliatif, diantaranya yaitu : RSUD Dr. Soetomo, RSCM, dan RS Kanker Dharmais. Laporan The 2nd Global Summit of National Hospice and Palliative Care Associations tanggal 15 – 16 Maret 2005 di Seoul, Korea, menyatakan bahwa coverage pelayanan paliatif di Indonesia baru mencapai 1% dari seluruh pasien yang membutuhkan sehingga diharapkan bahwa coverage ini dapat ditingkatkan.

Referensi

Bertens, K. 2009. Perspektif Etika Baru. Jakarta.

Blank, A. E. & O’Mahony, S. 2007. “Preface”. dalam Blank, A. E. & O’Mahony, S. (ed). 2007. Choices in Palliative Care. Springer : New York.

Emanuel, L. L. & Librach, S. L. 2007. Palliative Care : Core Skill and Clinical Competence. Saunders Elsevier : Philadelphia.

Beautiful Words from Our Whatsapp Group

698

In the last two years, our palliative team and the cancer patients have communicated via Palliative Whatsapp Group. There are more than 120 patients join this group, mostly are women with breast cancer. According to the survey that we held in December 2019, this group helped the patients to get more health-related information and also help them to stay mentally healthy.

During the spreading of the coronavirus, we have to keep a physical distance. Therefore, we try to optimize this group to bring more advantages for the members. These are several beautiful words we quoted from the group, with permission from the patients: