586

Pekerjaan mencuri barangkali dinilai sebagai pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidup di zaman di mana kebutuhan-kebutuhan hidup selalu mengalami kenaikan. Tapi hal ini tidak berlaku dalam pencurian yang dilakukan oleh Maryono dan 3 sekawanannya, yakni Alip, Sapto, dan Bayu.

Barangkali tidak asing lagi dengan sekelompok orang ini khususnya di Bandung, sebab saat ini mereka menetap di Bandung, kecuali Alip yang menetap di Probolinggo. Alip pula yang berlatarbelakang adanya tuntutan kebutuhan hidup mengajak Maryono dan kedua temannya akhirnya merencanakan aksi besarnya ini.

Setidak-tidaknya pada bulan September, Alip datang ke Bandung dan bermaksud menemui Maryono untuk meminta bantuan. Sebab pada saat itu, ia sedang dilanda penurunan omset dari usaha ternak ayamnya. Bermaksud untuk menjalani kehidupan dengan cara yang lebih baik, Alip melihat bahwa bisnis ternak ayam menjadi usaha yang cukup menguntungkan, maka dengan bermodalkan kurang lebih sebesar  30 jutaan rupiah dan nekat dengan mencari informasi dari orang-orang yang pernah menjalankan bisnis tersebut, Alip mencari pinjaman dan akhirnya bisa menjalankan bisnis tersebut. Di tengah berjalannya bisnis tersebut, ternyata tidak berjalan mulus begitu saja.

Ayam-ayam yang biasanya siap dipanen dan diambil oleh para tengkulak ayam potong ternyata di setiap panen selalu terdapat ayam-ayam yang mati. Singkat cerita, karena ada kewajiban untuk membayar hutang sebagai modal memulai bisnis ayam potong serta mencukupi kebutuhan hidup keluarga, hal ini membuat Alip cukup putus asa. Hingga akhirnya, ia kembali memilih jalan yang pernah dilakukannya di masa lalunya.

Sementara Maryono yang telah didatangi Alip dan menyampaikan maksudnya, menolak menerima tawaran tersebut. Bukan tanpa alasan apabila Alip mengajak Maryono untuk melancarkan aksinya ini, sebab Maryono telah berpengalaman di dunia seperti ini sejak tahun 1981. Pria paruh baya kelahiran Bandung 48 tahun yang lalu ini telah berkecimpung di dunia kejahatan sejak duduk di bangku SMP. Perjalanan hidupnya bahkan sempat merantau ke beberapa lapas di Indonesia sejak tahun 1981, diantaranya Pasuruan, Tangerang, Bandung, hingga saat ini di Sumenep.

Tak cukup sekali tawaran Alip diterima oleh Maryono. Namun, hal ini pula yang membuat Alip terus membujuk Maryono kembali. Wajar saja bila Maryono menolak dikarenakan pasca bebas dari lapas Pasuruan awal tahun 2017 ia bekerja di saudaranya dengan gaji sebesar Rp. 5.000.000/bulan. Namun, bukan Maryono apabila tidak ibah dengan kondisi rekannya yang demikian hingga akhirnya, benteng pertahanan Maryono tergoyahkan.

Perjalanan berlanjut untuk menambah rekan dalam satu tim, sebab ada tugas-tugas yang harus dilakukan. 2 rekan Maryono pun akhirnya bersedia ikut serta yakni Bayu dan Sapto. Dengan mengendarai mobil Xenia putih Nopol W 17422 SA yang disewa oleh Angel yakni anak tiri Maryono untuk waktu 2-3 hari sejak tanggal 11 Oktober 2017, mereka berempat menancapkan gas menuju Sumenep.

Setibanya di Sumenep yakni pada hari Jumat 13 Oktober 2017, Maryono dan rekannya menyusur di Perumahan Cinta Damai Selalu. Bertepatan dengan pemilik rumah yang sedang pergi ke Probolinggo dan rumah dalam keadaan kosong, ketika akan memasuki rumah Maryono dkk berpura-pura bertamu dengan mengetuk gerbang dan pintu. Ketika beberapa lama tanpa ada jawaban sedikitpun, maka kesempatan untuk masuk ke dalam rumah telah datang.

Berbekal perlatan untuk mampu memasuki rumah yang terkunci tanpa merusaknya, Maryono dan Alip yang bertugas memasuki rumah menggeledah lemari kamar Riska dan berhasil membawa barang-barang berupa tas, jam tangan, gesper, dan beberapa buku rekening tabungan. Pasca itu, mereka singgah di rumah temannya di sekitar Ambuten.

Merasa belum cukup dengan barang yang diperoleh pada hari Jumat, selang 2 hari yakni Minggu, 15 Oktober mereka kembali mencoba peruntungannya dengan harapan barangkali berhasil mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai daripada di TKP sebelumnya. Kali ini, Perumahan Sumber Rezeki yang menjadi target operasi. Melakukan dengan cara yang sama seperti di tempat sebelumnya, Alip yang menggedor-gedor gerbang dan Maryono yang tetap stay di mobil.

Merasa rumah dalam keadaan kosong, Alip memulai untuk mencongkel pintu gerbang. Barangkali keberuntungan yang diharapkan tidak sebagaimana TKP sebelumnya, belum sempat gerbang berhasil dibuka, sang pemilik rumah datang dan langsung memergoki ulah Alip. “Maling, maling, maling” teriakan yang ditujukan kepada Alip. Meskipun telah berpengalaman sebelum-sebelumnya, ternyata teriakan maling tersebut langsung membuat Alip dkk gugup setengah mati.

Seketika Alip langsung berlari menuju mobil dan Maryono telah bersiap-siap untuk menancapkan gas secepat mungkin. Lagi lagi nasib belum beruntung, sang pemilik rumah tersebut melempar batu ke arah kaca mobil Maryono hingga kaca tersebut pecah. Karena semakin mudah dikenali sebagai target operasi, Alip menyarankan untuk terlebih dahulu singgah di bengkel mengganti kaca depan mobil. Namun, usulan tersebut tidak disetujui Maryono. Berlajutlah perjalanan kabur mereka demi menghindari kejaran polisi…(Bersambung)

NB: Semua nama dan tempat bukanlah sbenarnya.

Akhir dari Legenda Pencurian Rumah Kosong ala Maryono, DKK (1)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *