127

oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog

 

  1. Pengertian & manfaat perawatan paliatif

Paliatif berasal dari bahasa Latin, palliare, yang secara harfiah berarti menyelubungi atau melindungi. Perawatan paliatif sendiri didefinisikan secara berbeda oleh beberapa pihak tetapi pada intinya definisi tersebut serupa. National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), Inggris, mendefinisikannya sebagai berikut :

“Palliative care is the active holistic care of patients with advanced progressive illness. Management of pain and other symptoms and the provision of psychological, social and spiritual support is paramount. The goal of palliative care is the best possible quality of life for patients and their families.”

(NICE dalam Buckley, 2008)

 

Istilah advanced progressive illness atau life-threatening illness dalam perawatan paliatif dapat merujuk pada penyakit apapun yang diderita pasien dalam jangka waktu panjang, dimana penyakit terus berkembang, membuat kondisi fisik pasien memburuk tanpa penanganan yang tepat, serta mengancam keselamatan jiwa pasien. Termasuk di dalamnya adalah kanker, gagal ginjal, stroke, Alzheimer, AIDS, dan lainnya. WHO (dalam Imanuel & Librach, 2007) menambahkan dalam definisi perawatan paliatif bahwa perawatan tersebut haruslah :

  • Mengurangi rasa nyeri dan meredakan tingkat distress pasien
  • Menguatkan dan membuat pasien memandang kematian sebagai suatu proses normal
  • Tidak berintensi memperpendek atau memperpanjang usia hidup
  • Mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual
  • Menawarkan sistem support yang membantu pasien tetap hidup seaktif mungkin sampai hari kematiannya tiba
  • Menawarkan sistem support untuk membantu keluarga pasien cope dengan penyakit pasien dan dengan rasa berduka mereka
  • Menggunakan pendekatan kerja tim untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarganya
  • Meningkatkan kualitas hidup dan secara positif mempengaruhi pasien dalam menjalani penyakitnya
  • Dapat diaplikasikan sejak awal penyakit dideteksi, sebagai pendamping terapi lainnya yang bertujuan mempertahankan hidup pasien, misalnya kemoterapi.

Di samping itu, adapula yang membedakan antara perawatan paliatif dan perawatan hospice. Diane Meier (2010), Direktur Center to Advance Palliative Care, Mount Sinai School of Medicine, menyatakan bahwa perawatan paliatif dapat disediakan kapanpun, bahkan sejak awal pasien menerima diagnosis dan dilaksanakan bersamaan dengan treatment kuratif. Perawatan paliatif juga dapat dilakukan tidak terbatas pada penyakit terminal. Sementara itu, perawatan hospice lebih fokus pada penyakit terminal, dimana tidak ada lagi treatment yang dapat membantu kesembuhan.

Pada dua definisi di atas, terdapat istilah quality of life atau kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup pasien merupakan tujuan utama perawatan paliatif. Apa arti kualitas hidup dan bagaimana mengukurnya? Ada banyak aspek yang dapat dikatakan sebagai faktor penentu kualitas hidup. David Weissman (2009) mengatakan bahwa konsep kualitas hidup seringkali digunakan ketika pasien, keluarga pasien, dan petugas kesehatan (dokter maupun perawat) mencoba memahami efek dari penyakit kronis. Menurut Weissman, terdapat dua konsep utama dari kualitas hidup, yaitu :

  1. Bersifat multidimensional meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
  2. Hanya dapat ditentukan oleh pasien (bersifat subjektif)

Asesmen mengenai kualitas hidup seseorang dapat diperoleh gambarannya dengan memahami “dunia” pasien dalam beberapa aspek, yaitu fungsi fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi  sosial, dan concern spiritual atau eksistensial. Walau bersifat subjektif, kualitas hidup dapat diperoleh gambarannya menurut suatu standar tertentu yang telah disepakati.

 

 

  1. II. Apa yang dapat dilakukan di rumah sakit?

“Knowledge speaks, but wisdom listens.”

(Jini Hendrix)

II.1. Pelaksanaan yang ideal

Menurut Maria A. Witjaksono (2010), dalam pelaksanaan perawatan paliatif ada beberapa pihak yang idealnya terlibat, yaitu :

  • Dokter
  • Perawat
  • Ahli gizi
  • Relawan
  • Terapis
  • Pekerja sosial medis
  • Pendamping atau pemimpin spiritual

Semua pihak tersebut hendaknya bekerja sama dan memiliki pola komunikasi yang efektif agar pelayanan memperoleh hasil yang optimal pada pasien.

Secara umum, proses yang dilakukan dalam perawatan paliatif serupa dengan intervensi lainnya yaitu meliputi asesmen kondisi dan kebutuhan pasien serta caregivernya, intervensi, dan evaluasi. Untuk setiap tahapan proses tersebut terdapat berbagai pilihan metode yang belum dibahas dalam artikel ini. Metode-metode tersebut harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan ketersediaan sumber daya manusia serta fasilitas rumah sakit.

II.2. Merintis perawatan paliatif di rumah sakit

Penulis, yang berprofesi sebagai psikolog klinis dan memiliki pengalaman sebagai anggota keluarga dari penderita kanker payudara dan kanker hati stadium lanjut yang dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu sangat panjang, merasakan pentingnya dukungan psikologis bagi pasien dan keluarga. Dukungan psikologis menjadi penting karena penyakit tersebut berpotensi tidak saja memporak-porandakan kehidupan pasien, tetapi juga seluruh anggota keluarga. Selain itu, dari observasi penulis tampak pula bahwa kondisi psikologis yang lebih positif, seperti merasakan kepuasan, optimis, ataupun penerimaan diri, yang dapat dikembangkan melalui perawatan paliatif, menjadi kekuatan bagi pasien tentunya di samping perawatan medis.

Namun penulis menyadari bahwa secara praktis terdapat hambatan untuk menerapkan perawatan paliatif di sebuah rumah sakit. Hambatan tersebut meliputi ketersediaan sumber daya manusia dan fasilitas rumah sakit, courage untuk memulai suatu pelayanan baru yang semula dinilai tidak krusial, sampai pada hambatan dalam hal finansial. Namun demikian, pihak rumah sakit dapat mulai menginventarisasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan pelayanan yang lebih optimal pada pasien dan caregivernya, dimana salah satunya adalah dengan menerapkan perawatan paliatif. Dengan demikian segala hambatan yang ada dapat dipandang sebagai tantangan untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit. Mempertimbangkan kondisi tersebut, penulis mengajukan suatu ide untuk merintis spirit perawatan paliatif dimulai dari sebuah layanan yang dapat bermanfaat bagi pasien namun tidak membebani pihak rumah sakit secara finansial.

Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan jasa psikolog yang adalah karyawan rumah sakit untuk melakukan pendampingan psikologis bagi pasien rawat inap. Kebutuhan akan pendampingan ini merupakan hasil observasi dan rujukan dokter yang merawat pasien disertai persetujuan pihak keluarga pasien. Pelaksanaan pendampingan dapat dilakukan sepanjang jam kerja psikolog di rumah sakit tanpa pasien dipungut biaya lebih dan selama pasien masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Bila tenaga psikolog yang tersedia di rumah sakit terbatas, pelayanan dapat ditujukan pada skala kecil terlebih dahulu, yaitu bagi pasien rawat inap yang sangat membutuhkan, misalnya pasien dengan penyakit AIDS, gagal ginjal, dan stroke. Bersamaan dengan pemberian layanan ini, dapat dilakukan pula sebuah penelitian dalam skala kecil untuk memahami efek dari perawatan paliatif bagi pasien rumah sakit.

Ide ini masih sangat dini. Masih akan dibutuhkan penyusunan rencana yang komprehensif dan matang. Namun ide ini merupakan jalan yang dapat ditempuh untuk meraih manfaat lebih, tidak hanya bagi pasien dan caregivernya, tetapi juga bagi pihak rumah sakit yang selalu ingin meningkatkan kualitas pelayanan. Layanan ini akan menjadi pendukung tercapainya sebuah service excellent di rumah sakit dimana kepuasan pasienlah yang menjadi parameter, bukan kepuasan pihak pemberi jasa. Ditekankan pula di sini bahwa penerapan paliatif akan menjadi sebuah proses yang selalu memerlukan evaluasi dan pembaruan, seperti halnya pelayanan lainnya di rumah sakit.

 

Referensi

Buckley, J. B. 2008. Palliative Care : An Integrated Approach. John Wiley & Sons, Ltd. : Chichester.

McDermott, E. 2005. Advocating Hospice and Palliative Care (Report of the 2nd Global Summit of National Hospiceand Palliative Care Associations). Lancaster University : UK.

Meier, D. 2010. “What is Palliative Care”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/what-is-palliative-care pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Susilo, N. 2010. “Sunaryadi dan Rasa Nyeri Penderita Kanker”. Kompas. 15 Februari 2010.

Weissman, D. 2010. “Quality of Life”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/quality-of-life pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Witjaksono, M. A. 2010.”Menyembuhkan rasa sakit dengan hati”. Saji. 5-14 Desember 2010.

 

 

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 2)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *