149
oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog 

Pengantar

“In some respects, this century’s scientific and medical advances have made living easier and dying harder.”

(Cassel CK and Field MJ dalam Emanuel & Librach, 2007)

Penelitian di Amerika Serikat memperkirakan bahwa pada tahun 2050, 22% dari populasi pasien di sana akan hidup sampai usia 85 tahun atau lebih dan akan menghabiskan waktu 3 hingga 6 tahun sisa hidup dengan penyakit progresif (Blank & O’Mahony, 2007). Sementara itu, data Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Indonesia (2010) menunjukkan peningkatan usia harapan hidup. Jika pada tahun 2010 angka usia harapan hidup adalah sebesar 67.4 tahun, di tahun 2020 diperkirakan adalah sebesar 71.1 tahun. Data tersebut di satu sisi menunjukkan bahwa usia harapan hidup di beberapa tempat di dunia mengalami kenaikan karena semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, namun di sisi lain peningkatan usia harapan hidup belum tentu diiringi peningkatan kualitas hidup itu sendiri.

Untuk dapat mempertahankan hidup, banyak pasien dan keluarganya mengeluarkan biaya sangat tinggi. Hal ini terutama dilakukan oleh pasien-pasien penderita penyakit kronis yang melakukan segala upaya untuk dapat pulih. Namun demikian, karena kebutuhan pasien bersifat multidimensional, muncul banyak laporan atas pelayanan kesehatan yang dipandang pasien tidak sesuai harapan mereka. Oleh karena itu, muncullah sebuah paradigma baru yaitu perawatan paliatif (Teno, Emmanuel, & Desbiens dalam Blank & O’Mahony, 2007).

Paradigma perawatan paliatif menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup pasien dan caregivernya. Konsep kualitas hidup memang bersifat subjektif. Tetapi yang menjadi fokus perawatan paliatif adalah melakukan improvement manajemen rasa sakit; mengefektifkan komunikasi pemberi layanan kesehatan, pasien, dan caregiver; serta memenuhi kebutuhan pasien yang bersifat multidimensional dari sudut fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Lebih jauh lagi, pemberi layanan kesehatan juga menjalin kerja sama dengan pekerja sosial guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Bagi pasien penderita penyakit kronis yang sangat kecil kemungkinannya untuk dapat pulih, perawatan paliatif melihat kemungkinan untuk berbuat sesuatu lagi jika pasien kehilangan harapan. Walaupun tidak ada cure (pengobatan) yang dapat menolong, tetapi harus diberikan care (perawatan atau asuhan) sebaik-baiknya. Karena itu, fokus pelayanan tidak lagi atau tidak hanya pada tindakan medis yang lebih canggih supaya pasien pulih, tetapi tindakan tersebut lebih diarahkan pada menghilangkan nyeri. Tujuannya adalah agar pasien penyakit terminal tetap dalam keadaan nyaman dan bahkan dapat meninggal dunia dengan tenang (Bertens, 2009).

Sejarah & perkembangan perawatan paliatif

“Yesterday is a history, tomorrow is a mystery. But today is a gift. And that’s why we call it present.”

(Film Kungfu Panda)

Pada tanggal 14 Juli 2005, dokter Cicely Saunders meninggal dunia di Inggris dalam usia 87 tahun. Kematiannya dikenang dan dikomentari dalam media massa di seluruh dunia, karena sudah lama ia mempunyai nama internasional. Saunders untuk seterusnya diingat sebagai pencetus hospice movement atau gerakan hospitium modern. Pada tahun 1967 ia mendirikan St. Christopher’s Hospice di Sydenham, London, dan selama 18 tahun menjadi direktur medisnya. Konsep “hospitium” terutama mengalami sukses karena di banyak tempat ternyata sangat dibutuhkan (Bertens,2009).

Kini hospice atau “hospitium” dimengerti sebagai tempat yang menampung pasien dengan penyakit terminal yang tidak mungkin sembuh lagi. Kebanyakan pasien adalah penderita kanker, tetapi adapula penyakit kronis lainnya. Tanpa harus memfokuskan diri pada kerja peralatan medis yang canggih untuk mempertahankan hidup pasien, tujuan perawatan hospice adalah memberikan rasa nyaman bagi pasien dan mengurangi rasa sakit yang diderita (pain control). Dengan demikian, hidup yang masih dimiliki dapat dijalani dengan lebih bermakna.

Dari semula, Saunders memahami bahwa untuk mewujudkan tujuan tersebut, perawatan hospitium akan meliputi urusan yang tidak hanya medis. Perawatan harus bersifat holistik, meliputi aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Ia juga mengerti bahwa perawatan ini memerlukan profesionalisme khusus. Karena itu, Saunders yang memulai karirnya sebagai perawat, lalu menempuh studi kedokteran di usianya yang ke-34. Jasa besar Saunders diakui dengan penghargaan yang diperolehnya dari dalam dan luar negeri. Dengan perawatan hospice, Saunders meletakkan dasar untuk perawatan paliatif. Berkat usahanya, kedokteran paliatif menjadi suatu spesialisasi yang berkembang di Inggris. Sekarang hampir semua rumah sakit di sana memiliki bagian paliatif dan sebanyak 80% pasien rawat inap yang membutuhkan perawatan paliatif telah menerimanya. Diharapkan lebih banyak lagi rumah sakit di dunia menerapkannya sebab perawatan paliatif harus menjadi bagian dari setiap sistem pelayanan kesehatan yang bermutu  (Bertens, 2009).

Pada perkembangannya, belum ada data lengkap mengenai program hospitium di seluruh dunia. Sebuah survei tahun 1995 menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada 31 negara di dunia telah memiliki perawatan ini. Namun survei tersebut belum mengikutsertakan Indonesia (Bertens, 2009). Sebenarnya Indonesia telah memulai gerakan perawatan paliatif pada tahun 1990 di RSUD Dr. Soetomo, dimana terdapat Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri dengan Prof dr R Sunaryadi Tejawinata SpTHT-KL (KOnk) yang berperan sebagai pembina (Kompas, 15 Februari 2010). Hingga saat ini masih sangat sedikit rumah sakit di Indonesia yang menjalankan perawatan paliatif, diantaranya yaitu : RSUD Dr. Soetomo, RSCM, dan RS Kanker Dharmais. Laporan The 2nd Global Summit of National Hospice and Palliative Care Associations tanggal 15 – 16 Maret 2005 di Seoul, Korea, menyatakan bahwa coverage pelayanan paliatif di Indonesia baru mencapai 1% dari seluruh pasien yang membutuhkan sehingga diharapkan bahwa coverage ini dapat ditingkatkan.

Referensi

Bertens, K. 2009. Perspektif Etika Baru. Jakarta.

Blank, A. E. & O’Mahony, S. 2007. “Preface”. dalam Blank, A. E. & O’Mahony, S. (ed). 2007. Choices in Palliative Care. Springer : New York.

Emanuel, L. L. & Librach, S. L. 2007. Palliative Care : Core Skill and Clinical Competence. Saunders Elsevier : Philadelphia.

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 1)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *