VIRTUAL RELAXATION: AN ALTERNATIVE METHOD FOR CANCER PATIENTS STRESS MANAGEMENT

23

Psychological conditions, in general, have a very important role in supporting the cancer patient therapy. Various things can trigger stress that affects the patient’s psychological condition while undergoing treatment. In dealing with psychological problems, it is necessary to have good coordination between patients, families, and health practitioners to keep the patient’s condition stable during treatment. One of the methods of stress management that can be done by patients and their families is a relaxation program.

To solve psychological problems in cancer patients, the palliative team held Virtual Relaxation Program. This program was carried independently by the patients and their families in their respective homes under the direction of the palliative team. In collaboration with Mrs I Gusti Ayu Karnasih, M. Kep, Ns. Sp. Kep Mat, Garwita Institute designed relaxation recordings that were made and customized to the conditions of the patients.

The palliative team and volunteers did an assessment as an initial stage and also a post-relaxation assessment to know the patients’ conditions further. Some patients became calmer after the program. Besides, the feeling of anxiety towards the disease also gradually decreased after undergoing the relaxation regularly. Based on the interim evaluation, the palliative team will continue to study and conduct research to produce relaxation records that can be useful for many more cancer patients.

TETAP PRODUKTIF & SEHAT MENTAL

30

Pandemi yang sudah berjalan selama 8 bulan memberi dampak bagi pekerja, salah satunya stres kerja.

Stres kerja merupakan kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikologis sehingga mempengaruhi kondisi pekerja. Untuk mengatasi masalah ini pekerja bisa melakukan regulasi terhadap diri sendiri.

Penjelasan mengenai kondisi stres dibahas dengan jelas dan menarik oleh dr. Dewi Prisca Sembiring, Sp.KJ dalam webinar yang diadakan oleh Garwita pada hari Jumat, 6 November 2020 melalui aplikasi zoom meeting. Tidak hanya itu, dalam webinar ini, Mieke Prasetyo, M.Psi, Psikolog juga mengupas metode regulasi diri dan hidup produktif.

Sahabat Garwita bisa mengakses rekaman dan materi melalui link di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=pmQtr0iTeok&t=3115s

webinar_kesmen_dpriscaSPKJ

Webinar Sehat Bahagia

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 2)

186

oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog

 

  1. Pengertian & manfaat perawatan paliatif

Paliatif berasal dari bahasa Latin, palliare, yang secara harfiah berarti menyelubungi atau melindungi. Perawatan paliatif sendiri didefinisikan secara berbeda oleh beberapa pihak tetapi pada intinya definisi tersebut serupa. National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), Inggris, mendefinisikannya sebagai berikut :

“Palliative care is the active holistic care of patients with advanced progressive illness. Management of pain and other symptoms and the provision of psychological, social and spiritual support is paramount. The goal of palliative care is the best possible quality of life for patients and their families.”

(NICE dalam Buckley, 2008)

 

Istilah advanced progressive illness atau life-threatening illness dalam perawatan paliatif dapat merujuk pada penyakit apapun yang diderita pasien dalam jangka waktu panjang, dimana penyakit terus berkembang, membuat kondisi fisik pasien memburuk tanpa penanganan yang tepat, serta mengancam keselamatan jiwa pasien. Termasuk di dalamnya adalah kanker, gagal ginjal, stroke, Alzheimer, AIDS, dan lainnya. WHO (dalam Imanuel & Librach, 2007) menambahkan dalam definisi perawatan paliatif bahwa perawatan tersebut haruslah :

  • Mengurangi rasa nyeri dan meredakan tingkat distress pasien
  • Menguatkan dan membuat pasien memandang kematian sebagai suatu proses normal
  • Tidak berintensi memperpendek atau memperpanjang usia hidup
  • Mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual
  • Menawarkan sistem support yang membantu pasien tetap hidup seaktif mungkin sampai hari kematiannya tiba
  • Menawarkan sistem support untuk membantu keluarga pasien cope dengan penyakit pasien dan dengan rasa berduka mereka
  • Menggunakan pendekatan kerja tim untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarganya
  • Meningkatkan kualitas hidup dan secara positif mempengaruhi pasien dalam menjalani penyakitnya
  • Dapat diaplikasikan sejak awal penyakit dideteksi, sebagai pendamping terapi lainnya yang bertujuan mempertahankan hidup pasien, misalnya kemoterapi.

Di samping itu, adapula yang membedakan antara perawatan paliatif dan perawatan hospice. Diane Meier (2010), Direktur Center to Advance Palliative Care, Mount Sinai School of Medicine, menyatakan bahwa perawatan paliatif dapat disediakan kapanpun, bahkan sejak awal pasien menerima diagnosis dan dilaksanakan bersamaan dengan treatment kuratif. Perawatan paliatif juga dapat dilakukan tidak terbatas pada penyakit terminal. Sementara itu, perawatan hospice lebih fokus pada penyakit terminal, dimana tidak ada lagi treatment yang dapat membantu kesembuhan.

Pada dua definisi di atas, terdapat istilah quality of life atau kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup pasien merupakan tujuan utama perawatan paliatif. Apa arti kualitas hidup dan bagaimana mengukurnya? Ada banyak aspek yang dapat dikatakan sebagai faktor penentu kualitas hidup. David Weissman (2009) mengatakan bahwa konsep kualitas hidup seringkali digunakan ketika pasien, keluarga pasien, dan petugas kesehatan (dokter maupun perawat) mencoba memahami efek dari penyakit kronis. Menurut Weissman, terdapat dua konsep utama dari kualitas hidup, yaitu :

  1. Bersifat multidimensional meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
  2. Hanya dapat ditentukan oleh pasien (bersifat subjektif)

Asesmen mengenai kualitas hidup seseorang dapat diperoleh gambarannya dengan memahami “dunia” pasien dalam beberapa aspek, yaitu fungsi fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi  sosial, dan concern spiritual atau eksistensial. Walau bersifat subjektif, kualitas hidup dapat diperoleh gambarannya menurut suatu standar tertentu yang telah disepakati.

 

 

  1. II. Apa yang dapat dilakukan di rumah sakit?

“Knowledge speaks, but wisdom listens.”

(Jini Hendrix)

II.1. Pelaksanaan yang ideal

Menurut Maria A. Witjaksono (2010), dalam pelaksanaan perawatan paliatif ada beberapa pihak yang idealnya terlibat, yaitu :

  • Dokter
  • Perawat
  • Ahli gizi
  • Relawan
  • Terapis
  • Pekerja sosial medis
  • Pendamping atau pemimpin spiritual

Semua pihak tersebut hendaknya bekerja sama dan memiliki pola komunikasi yang efektif agar pelayanan memperoleh hasil yang optimal pada pasien.

Secara umum, proses yang dilakukan dalam perawatan paliatif serupa dengan intervensi lainnya yaitu meliputi asesmen kondisi dan kebutuhan pasien serta caregivernya, intervensi, dan evaluasi. Untuk setiap tahapan proses tersebut terdapat berbagai pilihan metode yang belum dibahas dalam artikel ini. Metode-metode tersebut harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan ketersediaan sumber daya manusia serta fasilitas rumah sakit.

II.2. Merintis perawatan paliatif di rumah sakit

Penulis, yang berprofesi sebagai psikolog klinis dan memiliki pengalaman sebagai anggota keluarga dari penderita kanker payudara dan kanker hati stadium lanjut yang dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu sangat panjang, merasakan pentingnya dukungan psikologis bagi pasien dan keluarga. Dukungan psikologis menjadi penting karena penyakit tersebut berpotensi tidak saja memporak-porandakan kehidupan pasien, tetapi juga seluruh anggota keluarga. Selain itu, dari observasi penulis tampak pula bahwa kondisi psikologis yang lebih positif, seperti merasakan kepuasan, optimis, ataupun penerimaan diri, yang dapat dikembangkan melalui perawatan paliatif, menjadi kekuatan bagi pasien tentunya di samping perawatan medis.

Namun penulis menyadari bahwa secara praktis terdapat hambatan untuk menerapkan perawatan paliatif di sebuah rumah sakit. Hambatan tersebut meliputi ketersediaan sumber daya manusia dan fasilitas rumah sakit, courage untuk memulai suatu pelayanan baru yang semula dinilai tidak krusial, sampai pada hambatan dalam hal finansial. Namun demikian, pihak rumah sakit dapat mulai menginventarisasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan pelayanan yang lebih optimal pada pasien dan caregivernya, dimana salah satunya adalah dengan menerapkan perawatan paliatif. Dengan demikian segala hambatan yang ada dapat dipandang sebagai tantangan untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit. Mempertimbangkan kondisi tersebut, penulis mengajukan suatu ide untuk merintis spirit perawatan paliatif dimulai dari sebuah layanan yang dapat bermanfaat bagi pasien namun tidak membebani pihak rumah sakit secara finansial.

Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan jasa psikolog yang adalah karyawan rumah sakit untuk melakukan pendampingan psikologis bagi pasien rawat inap. Kebutuhan akan pendampingan ini merupakan hasil observasi dan rujukan dokter yang merawat pasien disertai persetujuan pihak keluarga pasien. Pelaksanaan pendampingan dapat dilakukan sepanjang jam kerja psikolog di rumah sakit tanpa pasien dipungut biaya lebih dan selama pasien masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Bila tenaga psikolog yang tersedia di rumah sakit terbatas, pelayanan dapat ditujukan pada skala kecil terlebih dahulu, yaitu bagi pasien rawat inap yang sangat membutuhkan, misalnya pasien dengan penyakit AIDS, gagal ginjal, dan stroke. Bersamaan dengan pemberian layanan ini, dapat dilakukan pula sebuah penelitian dalam skala kecil untuk memahami efek dari perawatan paliatif bagi pasien rumah sakit.

Ide ini masih sangat dini. Masih akan dibutuhkan penyusunan rencana yang komprehensif dan matang. Namun ide ini merupakan jalan yang dapat ditempuh untuk meraih manfaat lebih, tidak hanya bagi pasien dan caregivernya, tetapi juga bagi pihak rumah sakit yang selalu ingin meningkatkan kualitas pelayanan. Layanan ini akan menjadi pendukung tercapainya sebuah service excellent di rumah sakit dimana kepuasan pasienlah yang menjadi parameter, bukan kepuasan pihak pemberi jasa. Ditekankan pula di sini bahwa penerapan paliatif akan menjadi sebuah proses yang selalu memerlukan evaluasi dan pembaruan, seperti halnya pelayanan lainnya di rumah sakit.

 

Referensi

Buckley, J. B. 2008. Palliative Care : An Integrated Approach. John Wiley & Sons, Ltd. : Chichester.

McDermott, E. 2005. Advocating Hospice and Palliative Care (Report of the 2nd Global Summit of National Hospiceand Palliative Care Associations). Lancaster University : UK.

Meier, D. 2010. “What is Palliative Care”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/what-is-palliative-care pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Susilo, N. 2010. “Sunaryadi dan Rasa Nyeri Penderita Kanker”. Kompas. 15 Februari 2010.

Weissman, D. 2010. “Quality of Life”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/quality-of-life pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Witjaksono, M. A. 2010.”Menyembuhkan rasa sakit dengan hati”. Saji. 5-14 Desember 2010.

 

 

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 1)

221
oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog 

Pengantar

“In some respects, this century’s scientific and medical advances have made living easier and dying harder.”

(Cassel CK and Field MJ dalam Emanuel & Librach, 2007)

Penelitian di Amerika Serikat memperkirakan bahwa pada tahun 2050, 22% dari populasi pasien di sana akan hidup sampai usia 85 tahun atau lebih dan akan menghabiskan waktu 3 hingga 6 tahun sisa hidup dengan penyakit progresif (Blank & O’Mahony, 2007). Sementara itu, data Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Indonesia (2010) menunjukkan peningkatan usia harapan hidup. Jika pada tahun 2010 angka usia harapan hidup adalah sebesar 67.4 tahun, di tahun 2020 diperkirakan adalah sebesar 71.1 tahun. Data tersebut di satu sisi menunjukkan bahwa usia harapan hidup di beberapa tempat di dunia mengalami kenaikan karena semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, namun di sisi lain peningkatan usia harapan hidup belum tentu diiringi peningkatan kualitas hidup itu sendiri.

Untuk dapat mempertahankan hidup, banyak pasien dan keluarganya mengeluarkan biaya sangat tinggi. Hal ini terutama dilakukan oleh pasien-pasien penderita penyakit kronis yang melakukan segala upaya untuk dapat pulih. Namun demikian, karena kebutuhan pasien bersifat multidimensional, muncul banyak laporan atas pelayanan kesehatan yang dipandang pasien tidak sesuai harapan mereka. Oleh karena itu, muncullah sebuah paradigma baru yaitu perawatan paliatif (Teno, Emmanuel, & Desbiens dalam Blank & O’Mahony, 2007).

Paradigma perawatan paliatif menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup pasien dan caregivernya. Konsep kualitas hidup memang bersifat subjektif. Tetapi yang menjadi fokus perawatan paliatif adalah melakukan improvement manajemen rasa sakit; mengefektifkan komunikasi pemberi layanan kesehatan, pasien, dan caregiver; serta memenuhi kebutuhan pasien yang bersifat multidimensional dari sudut fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Lebih jauh lagi, pemberi layanan kesehatan juga menjalin kerja sama dengan pekerja sosial guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Bagi pasien penderita penyakit kronis yang sangat kecil kemungkinannya untuk dapat pulih, perawatan paliatif melihat kemungkinan untuk berbuat sesuatu lagi jika pasien kehilangan harapan. Walaupun tidak ada cure (pengobatan) yang dapat menolong, tetapi harus diberikan care (perawatan atau asuhan) sebaik-baiknya. Karena itu, fokus pelayanan tidak lagi atau tidak hanya pada tindakan medis yang lebih canggih supaya pasien pulih, tetapi tindakan tersebut lebih diarahkan pada menghilangkan nyeri. Tujuannya adalah agar pasien penyakit terminal tetap dalam keadaan nyaman dan bahkan dapat meninggal dunia dengan tenang (Bertens, 2009).

Sejarah & perkembangan perawatan paliatif

“Yesterday is a history, tomorrow is a mystery. But today is a gift. And that’s why we call it present.”

(Film Kungfu Panda)

Pada tanggal 14 Juli 2005, dokter Cicely Saunders meninggal dunia di Inggris dalam usia 87 tahun. Kematiannya dikenang dan dikomentari dalam media massa di seluruh dunia, karena sudah lama ia mempunyai nama internasional. Saunders untuk seterusnya diingat sebagai pencetus hospice movement atau gerakan hospitium modern. Pada tahun 1967 ia mendirikan St. Christopher’s Hospice di Sydenham, London, dan selama 18 tahun menjadi direktur medisnya. Konsep “hospitium” terutama mengalami sukses karena di banyak tempat ternyata sangat dibutuhkan (Bertens,2009).

Kini hospice atau “hospitium” dimengerti sebagai tempat yang menampung pasien dengan penyakit terminal yang tidak mungkin sembuh lagi. Kebanyakan pasien adalah penderita kanker, tetapi adapula penyakit kronis lainnya. Tanpa harus memfokuskan diri pada kerja peralatan medis yang canggih untuk mempertahankan hidup pasien, tujuan perawatan hospice adalah memberikan rasa nyaman bagi pasien dan mengurangi rasa sakit yang diderita (pain control). Dengan demikian, hidup yang masih dimiliki dapat dijalani dengan lebih bermakna.

Dari semula, Saunders memahami bahwa untuk mewujudkan tujuan tersebut, perawatan hospitium akan meliputi urusan yang tidak hanya medis. Perawatan harus bersifat holistik, meliputi aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Ia juga mengerti bahwa perawatan ini memerlukan profesionalisme khusus. Karena itu, Saunders yang memulai karirnya sebagai perawat, lalu menempuh studi kedokteran di usianya yang ke-34. Jasa besar Saunders diakui dengan penghargaan yang diperolehnya dari dalam dan luar negeri. Dengan perawatan hospice, Saunders meletakkan dasar untuk perawatan paliatif. Berkat usahanya, kedokteran paliatif menjadi suatu spesialisasi yang berkembang di Inggris. Sekarang hampir semua rumah sakit di sana memiliki bagian paliatif dan sebanyak 80% pasien rawat inap yang membutuhkan perawatan paliatif telah menerimanya. Diharapkan lebih banyak lagi rumah sakit di dunia menerapkannya sebab perawatan paliatif harus menjadi bagian dari setiap sistem pelayanan kesehatan yang bermutu  (Bertens, 2009).

Pada perkembangannya, belum ada data lengkap mengenai program hospitium di seluruh dunia. Sebuah survei tahun 1995 menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada 31 negara di dunia telah memiliki perawatan ini. Namun survei tersebut belum mengikutsertakan Indonesia (Bertens, 2009). Sebenarnya Indonesia telah memulai gerakan perawatan paliatif pada tahun 1990 di RSUD Dr. Soetomo, dimana terdapat Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri dengan Prof dr R Sunaryadi Tejawinata SpTHT-KL (KOnk) yang berperan sebagai pembina (Kompas, 15 Februari 2010). Hingga saat ini masih sangat sedikit rumah sakit di Indonesia yang menjalankan perawatan paliatif, diantaranya yaitu : RSUD Dr. Soetomo, RSCM, dan RS Kanker Dharmais. Laporan The 2nd Global Summit of National Hospice and Palliative Care Associations tanggal 15 – 16 Maret 2005 di Seoul, Korea, menyatakan bahwa coverage pelayanan paliatif di Indonesia baru mencapai 1% dari seluruh pasien yang membutuhkan sehingga diharapkan bahwa coverage ini dapat ditingkatkan.

Referensi

Bertens, K. 2009. Perspektif Etika Baru. Jakarta.

Blank, A. E. & O’Mahony, S. 2007. “Preface”. dalam Blank, A. E. & O’Mahony, S. (ed). 2007. Choices in Palliative Care. Springer : New York.

Emanuel, L. L. & Librach, S. L. 2007. Palliative Care : Core Skill and Clinical Competence. Saunders Elsevier : Philadelphia.

Beautiful Words from Our Whatsapp Group

378

In the last two years, our palliative team and the cancer patients have communicated via Palliative Whatsapp Group. There are more than 120 patients join this group, mostly are women with breast cancer. According to the survey that we held in December 2019, this group helped the patients to get more health-related information and also help them to stay mentally healthy.

During the spreading of the coronavirus, we have to keep a physical distance. Therefore, we try to optimize this group to bring more advantages for the members. These are several beautiful words we quoted from the group, with permission from the patients:

Garwita di Festival HAM 2019

338

Garwita ikut berpartisipasi menjadi bagian dari Festival HAM yang diadakan oleh Pemkot Jember. Festival ini berlangsung dari tanggal 21-23 November 2019 di Alun-Alun Kota Jember. Garwita hadir untuk ikut mengkampanyekan Jember sebagai kota ramah anak melalui layanan edukasi seksual kepada anak dan remaja secara gratis. Layanan edukasi seksual yang diberikan bertujuan agar anak dapat mengenali diri sendiri dan tahu cara menjaga diri dari ancaman kekerasan seksual.

Garwita menghadirkan berbagai media belajar yang digunakan dalam memberikan edukasi seksual kepada anak & remaja, mulai dari permainan puzzle, ular tangga, pop-up book hingga buku panduan memberikan edukasi seksual untuk pegangan orangtua. Para pengunjung yang mampir ke stand Garwita juga bisa mencoba memainkan beberapa permainan yang telah disediakan seperti ular tangga raksasa “Aku Anak yang Berani” dan puzzle “Mengenal Anggota Tubuh”.

Wisata Sehat Paliatif 5: Asyiknya di Warung Kembang

319

 

 

Wisata Sehat merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu oleh pasien. Wisata ini dilakukan pasien bersama keluarga, relawan, dan tim medis setiap dua kali setahun. Berwisata menjadi momen berharga bagi pasien, mengingat sebagian besar waktu mereka digunakan untuk berobat serta adanya keterbatasan pihak keluarga untuk memfasilitasi wisata. Penelitian tentang efektivitas program wisata ini untuk menurunkan tingkat distres pasien sedang dilakukan oleh salah satu relawan paliatif.

 

Wisata Sehat ke-5 diadakan tanggal 7 September 2019 di Warung Kembang, sebuah rumah makan bernuansa alam di daerah Ajung, Jember. Kegiatan yang dilakukan adalah pemeriksaan tensi & gula darah, relaksasi, games, dan seminar oleh dr Soedjono, Sp.KJ tentang hari tua yang bahagia. Wisata diikuti oleh 30 pasien kanker dan keluarganya. Semua menikmati canda tawa dan tentu saja pulang dengan hati gembira. (Ta)

 

Pameran Foto Paliatif Dalam Rangka HKN (Hari Kesehatan Nasional )

577

 

Event pameran foto kali ini berbeda dengan biasanya sebab dilaksanakan bekolaborasi bersama dengan pihak RS DKT pada Jumat 21 Desember 2018 dengan nuansa yang sudah dikemas menarik  untuk memeriahkan Hari Kesehatan Nasional ke 54 tahun di alun-alun kota Jember.

Acara sangat meriah dibuka pada jam 06.00 pagi dilanjutkan dengan senam bersama kemudian pembukaan pameran oleh bupati jember dr.Hj Faida MMR. Pada pameran kali ini tim paliatif garwita institute berkesempatan memberikan informasi adanya Perawatan Paliatif di jember oleh Garwita Institute dan layanan unggulan unit kemoterapi di Poli Onkologi oleh RS Baladhika Husada Jember dimana keduanya merupakan  satu-satunya yang ada di Kabupaten Jember.

Tim Paliatif garwita juga mendapat respon baik dari Bupati Jember dr.Hj Faida MMR karena berhasil memproduksi buku “Berjuang, Menerima dan Bahagia”  yang berisi pengalaman dan semangat para tenaga medis, tim paliatif maupun pasien dalam melawan penyakit kanker.

Harapan dari kegiatan ini adalah terciptanya derajat kesehatan yang setinggi-tinggi nya pada masysrakat dan menciptakan suasana yang kondusif meskipun dalam keadaan sakit.

Penyuluhan Komunitas di Wonorejo

662

Tim paliatif garwita institute bersama relawan mahasiswa keperawatan UNEJ melakukan Penyuluhan Komunitas di komunitas Ibu-Ibu Pengajian di daerah Wonorejo Kecamatan Kencong Jember pada tanggal 14 desember 2018 dengan jumlah peserta sekitar 60 orang mulai dari remaja, dewasa hingga lansia. Antusias mereka sangat tinggi dibuktikan dengan banyak peserta yang saling melempar pertanyaan sesama peserta

Salah satu bagian dari progam paliatif Garwita yang bertujuan memberikan edukasi tentang penyakit kanker pada khususnya, dan bagaimana cara penanggulangan nya serta edukasi tentang pemeriksaan gejala kanker dan penyuluhan kesehatan yang bermanfaat lain nya.

Program ini sudah rutin dilaksanakan dengan harapan masyarakat dapat memahami tentang gejala kanker dan bagaimana cara pengobatan nya, sehingga penyakit kanker dapat mudah ditemukan dan pengobatan nya tepat dan yang terpenting tidak terlambat penanganan.

Arisan Duta paliatif

648

Agenda baru di program paliatif garwita institute jember setiap 2 bulan sekali. Arisan duta paliatif dihadiri oleh tim paliatif, pasien dan para duta paliatif dengan tujuan menjaga tali silahturahmi dan kekompakan sesama Duta paliatif dan pasien-pasien kanker. Arisan ini akan menjadi sebuah pertemuan rutin yang akan menambah rasa kekeluargaan dan meningkatkan kualitas pasien.

Arisan duta paliatif perdana dilaksanakan pada hari minggu 16 desember 2018, bertempat di salah satu rumah pasien dan setiap bulannya akan bergantian, durasi acarapun akan menyesuaikan tema yang akan di ambil seperti yang sudah dilakukan yaitu Perawatan Luka Dasar dimana tim paliatif garwita institute mendatangkan Perawat ahli perawatan luka dari salah satu Rumah Sakit Di Jember.