Relaksasi Sebagai Alternatif Menunjang Keberhasilan Terapi Pasien Kanker

21

Kondisi psikologis secara umum memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan terapi pasien kanker.  Berbagai hal dapat menjadi pemicu stres sehingga mempengaruhi kondisi psikologis pasien kanker saat menjalani pengobatan. Untuk mengatasi hal ini pasien dan keluarga harus saling bekerjasama dalam mengelola stres dan menjaga kondisi psikologis pasien tetapstabil selama masa pengobatan. Metode pengelolaan stress yang dapat dilakukan oleh pasien dan keluarga salah satunya dengan memanfaatkan alternatif relaksasi.

Penjelasan seputar kondisi psikologis pasien kanker dibahas secara jelas dan menarik oleh dr. Andreas Andrianto, Sp.B(K)Onk dalam webinar yang diadakan oleh Tim Perawatan Paliatif Garwita pada hari Sabtu,17 Oktober 2020 melalui aplikasi zoom meeting dan Live Youtube. Tidak hanya itu dalam webinar ini Ibu I. Gusti Ayu Karnasih juga mengupas tuntas manfaat relaksasi bagi pasien kanker serta bagaimana meode ini dapat menjadi alternnatif pengelolaan stress.

Tim Paliatif Garwita mengusung tema”Pengaruh Stres Terhadap Efektivitas Terapi Pasien Kanker”. Webinar ini diikuti oleh berbagai kalangan baik dari pasien kanker, keluarga, tenaga kesehatan, pemerhati kanker, mahasiswa dan umum. Diharapkan webinar ini dapat memberi manfaat dan dukungan bagi pasien kanker dan keluarga untuk terus berjuang dalam menjalani pengobatan.

Teman-teman Garwita dapat mengakses rekaman dan materi diskusi melalui link di bawah ini:


Materi :
1. Materi 1 dr. Andreas
2. Cancer survivor with Relaxation_Materi 2_B Ayu 

Youtube Link :
https://youtu.be/gYkQi_RhI9A

 

Seri Diskusi Online: Ketika Orang yang Kita Sayangi Mengalami Gangguan Mental

89

Beberapa bulan terakhir isu kesehatan mental banyak menjadi perbincangan publik. khususnya di Indonesia, dimana kesadaran akan kesehatan mental mulai meningkat. Dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Mental Sedunia yang dirayakan pada tanggal 10 Oktober 2020, Garwita Institute mengadakan serangkaian diskusi online melalui Zoom dan Live Youtube dengan tema “Ketika Orang yang Kita Sayangi Mengalami Gangguan Mental”.

Diskusi terbagi menjadi 4 seri dimulai tanggal 10 September hingga 1 Oktober 2020 dan diadakan setiap hari Kamis pk 15.00. Seri pertama bertema Bipolar Disorder, seri kedua Skizofrenia, seri ketiga Depresi, dan seri keempat Eating Disorder (Gangguan Makan). Serangkaian diskusi ini diikuti oleh awam, mahasiswa, dan caregiver dari pasien gangguan mental.

Manfaat yang diperoleh dari diskusi ini menambah wawasan seputar gangguan mental, meningkatkan awareness masyarakat tentang kesehatan mental, dan sebagai langkah awal dari tindakan nyata Garwita bersama masyarakat sebagai sahabat dan keluarga untuk membantu mereka yang mengalami gangguan mental.

Teman-teman Garwita dapat mengakses rekaman dan materi diskusi melalui link di bawah ini:

  • https://drive.google.com/file/d/1ChMF43DyLOJYOFQBag0nNv-PWX2sxm0-/view?usp=sharing
  • https://www.youtube.com/watch?v=XUmwaKRy490 (link youtube)
  • https://drive.google.com/file/d/1jiOiMK6GCJpJ9dWjV8dV7wx72a5c12yt/view?usp=sharing
  • https://www.youtube.com/watch?v=AnnTUfrtM2I (link youtube)
  • https://drive.google.com/file/d/1Jckv0sYPq1zSdE78zaxtivdETk_Dyrpj/view?usp=sharing
  • https://www.youtube.com/watch?v=Y9SnSGzPNnk (link youtube)
  • https://drive.google.com/file/d/1Dg8HIM6wO1hSmwdvD2h5Uretz0p85bLr/view?usp=sharing
  • https://www.youtube.com/watch?v=rB9ZCQXdOaA&list=PLY8FavoG46EAXNerL6mwJ80rnX-PWfZZo (link youtube)

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 2)

136

oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog

 

  1. Pengertian & manfaat perawatan paliatif

Paliatif berasal dari bahasa Latin, palliare, yang secara harfiah berarti menyelubungi atau melindungi. Perawatan paliatif sendiri didefinisikan secara berbeda oleh beberapa pihak tetapi pada intinya definisi tersebut serupa. National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), Inggris, mendefinisikannya sebagai berikut :

“Palliative care is the active holistic care of patients with advanced progressive illness. Management of pain and other symptoms and the provision of psychological, social and spiritual support is paramount. The goal of palliative care is the best possible quality of life for patients and their families.”

(NICE dalam Buckley, 2008)

 

Istilah advanced progressive illness atau life-threatening illness dalam perawatan paliatif dapat merujuk pada penyakit apapun yang diderita pasien dalam jangka waktu panjang, dimana penyakit terus berkembang, membuat kondisi fisik pasien memburuk tanpa penanganan yang tepat, serta mengancam keselamatan jiwa pasien. Termasuk di dalamnya adalah kanker, gagal ginjal, stroke, Alzheimer, AIDS, dan lainnya. WHO (dalam Imanuel & Librach, 2007) menambahkan dalam definisi perawatan paliatif bahwa perawatan tersebut haruslah :

  • Mengurangi rasa nyeri dan meredakan tingkat distress pasien
  • Menguatkan dan membuat pasien memandang kematian sebagai suatu proses normal
  • Tidak berintensi memperpendek atau memperpanjang usia hidup
  • Mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual
  • Menawarkan sistem support yang membantu pasien tetap hidup seaktif mungkin sampai hari kematiannya tiba
  • Menawarkan sistem support untuk membantu keluarga pasien cope dengan penyakit pasien dan dengan rasa berduka mereka
  • Menggunakan pendekatan kerja tim untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarganya
  • Meningkatkan kualitas hidup dan secara positif mempengaruhi pasien dalam menjalani penyakitnya
  • Dapat diaplikasikan sejak awal penyakit dideteksi, sebagai pendamping terapi lainnya yang bertujuan mempertahankan hidup pasien, misalnya kemoterapi.

Di samping itu, adapula yang membedakan antara perawatan paliatif dan perawatan hospice. Diane Meier (2010), Direktur Center to Advance Palliative Care, Mount Sinai School of Medicine, menyatakan bahwa perawatan paliatif dapat disediakan kapanpun, bahkan sejak awal pasien menerima diagnosis dan dilaksanakan bersamaan dengan treatment kuratif. Perawatan paliatif juga dapat dilakukan tidak terbatas pada penyakit terminal. Sementara itu, perawatan hospice lebih fokus pada penyakit terminal, dimana tidak ada lagi treatment yang dapat membantu kesembuhan.

Pada dua definisi di atas, terdapat istilah quality of life atau kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup pasien merupakan tujuan utama perawatan paliatif. Apa arti kualitas hidup dan bagaimana mengukurnya? Ada banyak aspek yang dapat dikatakan sebagai faktor penentu kualitas hidup. David Weissman (2009) mengatakan bahwa konsep kualitas hidup seringkali digunakan ketika pasien, keluarga pasien, dan petugas kesehatan (dokter maupun perawat) mencoba memahami efek dari penyakit kronis. Menurut Weissman, terdapat dua konsep utama dari kualitas hidup, yaitu :

  1. Bersifat multidimensional meliputi aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
  2. Hanya dapat ditentukan oleh pasien (bersifat subjektif)

Asesmen mengenai kualitas hidup seseorang dapat diperoleh gambarannya dengan memahami “dunia” pasien dalam beberapa aspek, yaitu fungsi fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi  sosial, dan concern spiritual atau eksistensial. Walau bersifat subjektif, kualitas hidup dapat diperoleh gambarannya menurut suatu standar tertentu yang telah disepakati.

 

 

  1. II. Apa yang dapat dilakukan di rumah sakit?

“Knowledge speaks, but wisdom listens.”

(Jini Hendrix)

II.1. Pelaksanaan yang ideal

Menurut Maria A. Witjaksono (2010), dalam pelaksanaan perawatan paliatif ada beberapa pihak yang idealnya terlibat, yaitu :

  • Dokter
  • Perawat
  • Ahli gizi
  • Relawan
  • Terapis
  • Pekerja sosial medis
  • Pendamping atau pemimpin spiritual

Semua pihak tersebut hendaknya bekerja sama dan memiliki pola komunikasi yang efektif agar pelayanan memperoleh hasil yang optimal pada pasien.

Secara umum, proses yang dilakukan dalam perawatan paliatif serupa dengan intervensi lainnya yaitu meliputi asesmen kondisi dan kebutuhan pasien serta caregivernya, intervensi, dan evaluasi. Untuk setiap tahapan proses tersebut terdapat berbagai pilihan metode yang belum dibahas dalam artikel ini. Metode-metode tersebut harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan ketersediaan sumber daya manusia serta fasilitas rumah sakit.

II.2. Merintis perawatan paliatif di rumah sakit

Penulis, yang berprofesi sebagai psikolog klinis dan memiliki pengalaman sebagai anggota keluarga dari penderita kanker payudara dan kanker hati stadium lanjut yang dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu sangat panjang, merasakan pentingnya dukungan psikologis bagi pasien dan keluarga. Dukungan psikologis menjadi penting karena penyakit tersebut berpotensi tidak saja memporak-porandakan kehidupan pasien, tetapi juga seluruh anggota keluarga. Selain itu, dari observasi penulis tampak pula bahwa kondisi psikologis yang lebih positif, seperti merasakan kepuasan, optimis, ataupun penerimaan diri, yang dapat dikembangkan melalui perawatan paliatif, menjadi kekuatan bagi pasien tentunya di samping perawatan medis.

Namun penulis menyadari bahwa secara praktis terdapat hambatan untuk menerapkan perawatan paliatif di sebuah rumah sakit. Hambatan tersebut meliputi ketersediaan sumber daya manusia dan fasilitas rumah sakit, courage untuk memulai suatu pelayanan baru yang semula dinilai tidak krusial, sampai pada hambatan dalam hal finansial. Namun demikian, pihak rumah sakit dapat mulai menginventarisasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan pelayanan yang lebih optimal pada pasien dan caregivernya, dimana salah satunya adalah dengan menerapkan perawatan paliatif. Dengan demikian segala hambatan yang ada dapat dipandang sebagai tantangan untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit. Mempertimbangkan kondisi tersebut, penulis mengajukan suatu ide untuk merintis spirit perawatan paliatif dimulai dari sebuah layanan yang dapat bermanfaat bagi pasien namun tidak membebani pihak rumah sakit secara finansial.

Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan jasa psikolog yang adalah karyawan rumah sakit untuk melakukan pendampingan psikologis bagi pasien rawat inap. Kebutuhan akan pendampingan ini merupakan hasil observasi dan rujukan dokter yang merawat pasien disertai persetujuan pihak keluarga pasien. Pelaksanaan pendampingan dapat dilakukan sepanjang jam kerja psikolog di rumah sakit tanpa pasien dipungut biaya lebih dan selama pasien masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Bila tenaga psikolog yang tersedia di rumah sakit terbatas, pelayanan dapat ditujukan pada skala kecil terlebih dahulu, yaitu bagi pasien rawat inap yang sangat membutuhkan, misalnya pasien dengan penyakit AIDS, gagal ginjal, dan stroke. Bersamaan dengan pemberian layanan ini, dapat dilakukan pula sebuah penelitian dalam skala kecil untuk memahami efek dari perawatan paliatif bagi pasien rumah sakit.

Ide ini masih sangat dini. Masih akan dibutuhkan penyusunan rencana yang komprehensif dan matang. Namun ide ini merupakan jalan yang dapat ditempuh untuk meraih manfaat lebih, tidak hanya bagi pasien dan caregivernya, tetapi juga bagi pihak rumah sakit yang selalu ingin meningkatkan kualitas pelayanan. Layanan ini akan menjadi pendukung tercapainya sebuah service excellent di rumah sakit dimana kepuasan pasienlah yang menjadi parameter, bukan kepuasan pihak pemberi jasa. Ditekankan pula di sini bahwa penerapan paliatif akan menjadi sebuah proses yang selalu memerlukan evaluasi dan pembaruan, seperti halnya pelayanan lainnya di rumah sakit.

 

Referensi

Buckley, J. B. 2008. Palliative Care : An Integrated Approach. John Wiley & Sons, Ltd. : Chichester.

McDermott, E. 2005. Advocating Hospice and Palliative Care (Report of the 2nd Global Summit of National Hospiceand Palliative Care Associations). Lancaster University : UK.

Meier, D. 2010. “What is Palliative Care”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/what-is-palliative-care pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Susilo, N. 2010. “Sunaryadi dan Rasa Nyeri Penderita Kanker”. Kompas. 15 Februari 2010.

Weissman, D. 2010. “Quality of Life”. diunduh dari http://www.getpalliativecare.org/quick-facts/archives/2009/12/quality-of-life pada tanggal 19 Desember 2010.

 

Witjaksono, M. A. 2010.”Menyembuhkan rasa sakit dengan hati”. Saji. 5-14 Desember 2010.

 

 

MERINTIS PERAWATAN PALIATIF GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN ADVANCED-PROGRESSIVE ILLNESS (Bagian 1)

149
oleh Nadia Maria, M. Psi, Psikolog 

Pengantar

“In some respects, this century’s scientific and medical advances have made living easier and dying harder.”

(Cassel CK and Field MJ dalam Emanuel & Librach, 2007)

Penelitian di Amerika Serikat memperkirakan bahwa pada tahun 2050, 22% dari populasi pasien di sana akan hidup sampai usia 85 tahun atau lebih dan akan menghabiskan waktu 3 hingga 6 tahun sisa hidup dengan penyakit progresif (Blank & O’Mahony, 2007). Sementara itu, data Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Indonesia (2010) menunjukkan peningkatan usia harapan hidup. Jika pada tahun 2010 angka usia harapan hidup adalah sebesar 67.4 tahun, di tahun 2020 diperkirakan adalah sebesar 71.1 tahun. Data tersebut di satu sisi menunjukkan bahwa usia harapan hidup di beberapa tempat di dunia mengalami kenaikan karena semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, namun di sisi lain peningkatan usia harapan hidup belum tentu diiringi peningkatan kualitas hidup itu sendiri.

Untuk dapat mempertahankan hidup, banyak pasien dan keluarganya mengeluarkan biaya sangat tinggi. Hal ini terutama dilakukan oleh pasien-pasien penderita penyakit kronis yang melakukan segala upaya untuk dapat pulih. Namun demikian, karena kebutuhan pasien bersifat multidimensional, muncul banyak laporan atas pelayanan kesehatan yang dipandang pasien tidak sesuai harapan mereka. Oleh karena itu, muncullah sebuah paradigma baru yaitu perawatan paliatif (Teno, Emmanuel, & Desbiens dalam Blank & O’Mahony, 2007).

Paradigma perawatan paliatif menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup pasien dan caregivernya. Konsep kualitas hidup memang bersifat subjektif. Tetapi yang menjadi fokus perawatan paliatif adalah melakukan improvement manajemen rasa sakit; mengefektifkan komunikasi pemberi layanan kesehatan, pasien, dan caregiver; serta memenuhi kebutuhan pasien yang bersifat multidimensional dari sudut fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Lebih jauh lagi, pemberi layanan kesehatan juga menjalin kerja sama dengan pekerja sosial guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Bagi pasien penderita penyakit kronis yang sangat kecil kemungkinannya untuk dapat pulih, perawatan paliatif melihat kemungkinan untuk berbuat sesuatu lagi jika pasien kehilangan harapan. Walaupun tidak ada cure (pengobatan) yang dapat menolong, tetapi harus diberikan care (perawatan atau asuhan) sebaik-baiknya. Karena itu, fokus pelayanan tidak lagi atau tidak hanya pada tindakan medis yang lebih canggih supaya pasien pulih, tetapi tindakan tersebut lebih diarahkan pada menghilangkan nyeri. Tujuannya adalah agar pasien penyakit terminal tetap dalam keadaan nyaman dan bahkan dapat meninggal dunia dengan tenang (Bertens, 2009).

Sejarah & perkembangan perawatan paliatif

“Yesterday is a history, tomorrow is a mystery. But today is a gift. And that’s why we call it present.”

(Film Kungfu Panda)

Pada tanggal 14 Juli 2005, dokter Cicely Saunders meninggal dunia di Inggris dalam usia 87 tahun. Kematiannya dikenang dan dikomentari dalam media massa di seluruh dunia, karena sudah lama ia mempunyai nama internasional. Saunders untuk seterusnya diingat sebagai pencetus hospice movement atau gerakan hospitium modern. Pada tahun 1967 ia mendirikan St. Christopher’s Hospice di Sydenham, London, dan selama 18 tahun menjadi direktur medisnya. Konsep “hospitium” terutama mengalami sukses karena di banyak tempat ternyata sangat dibutuhkan (Bertens,2009).

Kini hospice atau “hospitium” dimengerti sebagai tempat yang menampung pasien dengan penyakit terminal yang tidak mungkin sembuh lagi. Kebanyakan pasien adalah penderita kanker, tetapi adapula penyakit kronis lainnya. Tanpa harus memfokuskan diri pada kerja peralatan medis yang canggih untuk mempertahankan hidup pasien, tujuan perawatan hospice adalah memberikan rasa nyaman bagi pasien dan mengurangi rasa sakit yang diderita (pain control). Dengan demikian, hidup yang masih dimiliki dapat dijalani dengan lebih bermakna.

Dari semula, Saunders memahami bahwa untuk mewujudkan tujuan tersebut, perawatan hospitium akan meliputi urusan yang tidak hanya medis. Perawatan harus bersifat holistik, meliputi aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Ia juga mengerti bahwa perawatan ini memerlukan profesionalisme khusus. Karena itu, Saunders yang memulai karirnya sebagai perawat, lalu menempuh studi kedokteran di usianya yang ke-34. Jasa besar Saunders diakui dengan penghargaan yang diperolehnya dari dalam dan luar negeri. Dengan perawatan hospice, Saunders meletakkan dasar untuk perawatan paliatif. Berkat usahanya, kedokteran paliatif menjadi suatu spesialisasi yang berkembang di Inggris. Sekarang hampir semua rumah sakit di sana memiliki bagian paliatif dan sebanyak 80% pasien rawat inap yang membutuhkan perawatan paliatif telah menerimanya. Diharapkan lebih banyak lagi rumah sakit di dunia menerapkannya sebab perawatan paliatif harus menjadi bagian dari setiap sistem pelayanan kesehatan yang bermutu  (Bertens, 2009).

Pada perkembangannya, belum ada data lengkap mengenai program hospitium di seluruh dunia. Sebuah survei tahun 1995 menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada 31 negara di dunia telah memiliki perawatan ini. Namun survei tersebut belum mengikutsertakan Indonesia (Bertens, 2009). Sebenarnya Indonesia telah memulai gerakan perawatan paliatif pada tahun 1990 di RSUD Dr. Soetomo, dimana terdapat Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri dengan Prof dr R Sunaryadi Tejawinata SpTHT-KL (KOnk) yang berperan sebagai pembina (Kompas, 15 Februari 2010). Hingga saat ini masih sangat sedikit rumah sakit di Indonesia yang menjalankan perawatan paliatif, diantaranya yaitu : RSUD Dr. Soetomo, RSCM, dan RS Kanker Dharmais. Laporan The 2nd Global Summit of National Hospice and Palliative Care Associations tanggal 15 – 16 Maret 2005 di Seoul, Korea, menyatakan bahwa coverage pelayanan paliatif di Indonesia baru mencapai 1% dari seluruh pasien yang membutuhkan sehingga diharapkan bahwa coverage ini dapat ditingkatkan.

Referensi

Bertens, K. 2009. Perspektif Etika Baru. Jakarta.

Blank, A. E. & O’Mahony, S. 2007. “Preface”. dalam Blank, A. E. & O’Mahony, S. (ed). 2007. Choices in Palliative Care. Springer : New York.

Emanuel, L. L. & Librach, S. L. 2007. Palliative Care : Core Skill and Clinical Competence. Saunders Elsevier : Philadelphia.

Webinar: Career Plan & Development

154

Ditengah situasi pandemi saat ini, banyak masyarakat yang mempunyai permasalahan terkait pekerjaan. Garwita institute berinisiatif menggelar Webinar Karir perencanaan dan pengembangan karir yang diperuntukkan bagi mahasiswa dan fresh graduate. Seminar ini bertujuan untuk berbagi informasi sebagai bekal untuk merancang karir sesuai yang diharapkan.

Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap yakni assessment kepribadian pada tahap I Senin tanggal 6 Juli 2020 dan Selasa 7 Juli 2020 pukul 09.00-12.00 kemudian dilanjutkan dengan webinar di tahap II pada hari Sabtu, tanggal 18 Juli 2020. Serangkaian acara ini dilakukan secara daring melalui aplikasi google meet.

Peserta yang berpartisipasi dalam webinar ini sebanyak 31 orang, diantaranya mahasiswa dan  fresh graduate  dari berbagai universitas. Berbagai Keuntungan yang didapatkan peserta, antara lain laporan hasil asesmen kepribadian terkait karir, wawasan tentang tantangan baru di dunia industry dan tips mengatasinya sesuai kepribadian kamu, perencanaan karir yang matang, dan mendapatkan E-setifikat.

 

Beautiful Words from Our Whatsapp Group

345

In the last two years, our palliative team and the cancer patients have communicated via Palliative Whatsapp Group. There are more than 120 patients join this group, mostly are women with breast cancer. According to the survey that we held in December 2019, this group helped the patients to get more health-related information and also help them to stay mentally healthy.

During the spreading of the coronavirus, we have to keep a physical distance. Therefore, we try to optimize this group to bring more advantages for the members. These are several beautiful words we quoted from the group, with permission from the patients:

PALLIATIVE SUPPORT GROUP: SPREADING INFORMATION, SPREADING HOPE

406

The Palliative Support Group or PSG is a routine activity carried out by the Palliative Team every Monday and Wednesday at DKT Hospital. PSG topics in February and March 2020 were how to take care of a wound after surgery and education about coronavirus. The goal was to increase awareness and make the patients and their families skilful in taking care of the patient at home.

This program is important regarding that many of the patients live in villages and have insufficient healt

h information access. There were 30 patients who joined each PSG. PSG ended with a personal co

nsultation for several patients related to the topic.

Due to the spreading of COVID-19, PSG has been held online via Whatsapp Group. The themes have been how to wash hands properly and mental health practices to maintain during the coronavirus lockdown.  (Rin)

GARWITA Afternoon Talk: Bullying Around us

413

Bullying is still a crucial  global problem. Sometimes it happen in front of us and hiding without anyone knowing. Bullying often happens at school and every child is potentially to be the bully or victim. The one who is be the victim of bully will feel anxious, stress, depress, even to a suicidal attempt. It seriously needs attention of us.

What we have to do? Lets discuss and show that we care about that.

Through a new program (Afternoon talk) Garwita institute inviting everyones to discuss about “Bullying” that have been held in wednesday 12 of February 2020 at 3 PM. Mrs. Nadia Maria was the speaker in this afternoon talk and various parties like collage students and parents became the audience of the discussion.

What is bullying? Bullying is aggresive behavior that has the purpose of making the victim feel stress or hurt, to involve imbalance of power between the bully and the victim, and usually happens repeatedly.

Bullying can affect someone’s life including  academics, physical health, social relations, self image and mental health.

Bulliying happens because of many factors that are character, environment, social and empathy. The way to resolve  bullying is parents communication to their children, to differentiate between the good and the bad thing, developed the empathy and beat the bullying with the achievement.

GARWITA Afternoon Talk: Business Law “Forms of Business Entity” (CV, PT, FIRMA, Individuals & Civil Partnership)

399

The Business Legal Material was resumed with a discussion on the form of business entities which were held on Wednesday, February 26th, 2020, at 3. P.M. This Speaker was Mellyana Trisnawati, S.H, M.Kn, she was as one of the notaries in Jember. In this topic, there are 3 important points that were informed, the first point: If we have a business and need help, is there any other way than borrowing money from other people? The answer: There is, one of which is to offer to other parties to participate as investors in the business that is running now or that has been done. So that from the beginning there is only one investor, when there is additional capital from other parties or new investors, the business that has been in progress or will be carried out is converted into the agency.

The second point, How to make the rules of the game among people who are investors? Before establishing a body, whether it’s a business entity or a legal entity, recognize and learn the differences, especially in the capital system. Every business must know the advantages and disadvantages, so the most important thing is risk management. And the last point, How do we deal with third parties? One of the differences between the body forms mentioned above is about structure. After knowing the structure, then the limitation of authority must be determined, so that it does not occur authority that will cause harm to one of the parties.

This activity is expected to be a place for anyone to share knowledge and discussion together.

Bincang Sore Garwita: Jembatan Praktis Profesional Muda

523

Garwita Institute, tidak hanya menjadi tempat untuk belajar bagi para mahasiswa, tapi juga menjadi sarana bagi beberapa professional muda untuk mengabdikan diri bagi masyarakat. Bincang Sore Garwita acara untuk menjembatani para professional muda untuk berbagi pengetahuan praktis bagi masyarakat dan salah satu program baru yang akan rutin dilaksanakan sebulan sekali dengan berbagai topik, yang diselenggarakan dengan format bincang-bincang santai. Kegiatan ini juga akan terdokumentasikan melalui website dan sosial media Garwita Institute.

“Legalitas usaha” tentang hukum bisnis menjadi tema perdana yang disampaikan oleh Andrian Febrianto selaku Advokat yang memberikan bantuan hukum di Garwita Institute dalam acara Bincang Sore Pada hari Rabu, 22 Januari 2020 Pukul 15.00 WIB. Acara ini diikuti oleh beberapa pelaku usaha yang ada di Jember.

Pemateri menyampaikan bagaimana legalitas usaha itu dibutuhkan, kenapa usaha harus memiliki legalitas dan pentingnya legalitas usaha. Andrian Febrianto memaparkan bahwa legalitas usaha dibutuhkan karena adanya beberapa kondisi yang pertama terkait permodalan. Permodalan besar harus ada orang yang tanggung jawab, misalkan Perseroan Terbatas yang bertanggung jawab adalah direksinya. Urusan permodalan khususnya tambahan permodalan, juga menjadi faktor legalitas usaha dibutuhkan yaitu untuk mengajukan permohonan kredit dibutuhkan SIUP dan TDP sebagai bukti kalau usaha tersebut legal. Kondisi kedua, adalah jenis usahanya seperti  pub yang menjual minuman beralkohol harus ada izin di pariwisata.

Pemateri menjelaskan bahwa tidak semua jenis usaha harus legal atau memiliki legalitas usaha. Apabila skalanya kecil seperti kaki lima dan tidak menetap atau toko pracangan kecil tidak membutuhkan legalitas. Bisa iya, bisa tidak. Pentingnya legalitas  yaitu untuk menambah modal dan mencegah adanya investor bodong atau investasi yang bermasalah.

Bincang sore Garwita  dapat diikuti oleh siapapun cukup dengan memberikan donasi secara sukarela yang seluruh perolehannya akan didonasikan bagi perawatan paliatif pasien kanker dan kegiatan pemberdayaan terhadap WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) Lapas Kelas IIA Jember.