543

Bulan September 2017 menjadi bulan yang mengerikan bagi Suryani, seorang anak perempuan berusia sembilan tahun? Suryani tinggal di salah satu desa yang terdapat di Jawa Timur. Ia tinggal dengan kedua orang tua kandung dan seorang adik lelakinya.

Di sebelah rumah Suryani ada sebuah rumah yang masih kategori keluarga dari ibunya. Mbah kung Mbah Yen adalah pemilik rumah di sebelah rumah Suryani. Mbah Kung tinggal bersama Nila (20 tahun) dan Sigit (15 tahun) dua orang cucu dari anak perempuannya bernama Wati yang kini tinggal di luar kota bersama suami ketiganya dan empat anak dari suami ketiganya tersebut. Wati menikah tiga kali dan memiliki tujuh anak dari tiga kali pernikahannya.

September 2017 Suryani menjadi korban pemerkosaan ketika ia dan tiga sepupunya dan seorang tetangganya sedang bermain petak umpet di rumah Mbah Kung. Setelah kejadian tersebut Suryani menjadi malas ngaji dan keluar rumah. Ia tidak memberitahu peristiwa tersebut kepada siapapun dikarenakan ancaman. Ancaman yang ia dapatkan adalah kalimat “Jangan kasih tahu siapa-siapa, kalau kamu kasih tahu kamu masuk neraka”.

Suatu hari pada Januari 2018, Suryani dijemput dari sekolah oleh Ibunya. Hari itu hujan sangat deras, membuat baju Suryani dan ibunya basah. Sesampainya di rumah, Suryani ditawari oleh ibunya untuk mandi bersama karena mereka sudah sama-sama basah terkena hujan. Awalnya Suryani menolak, namun ibunya berkata “loh kenapa nak? Kitakan sudah lama tidak mandi bersama, nanti ibu gosong punggung kamu biar bersih”. Suryani tetap menolak, namun akhirnya ia bersedia karena tidak bisa lagi menolak ajakan mandi dengan ibunya.

Ketika mandi, Suryani dimandikan oleh ibunya. Ketika Ibunya menggosok bagian depan badan Suryani hingga ke daerah vaginanya, Suryani menjerit “sakit buk, sakitt”

Ibunya merasa terkejut dan aneh lalu bertanya “apa yang sakit nak?, kenapa sakit?

Suryani menangis dan hanya bisa menjawab “gak tahu buk,, tapi sakit”

Merasa sangat penasaran, setelah mandi Suryani diminta ibunya untuk membuka kedua pahanya dan melihat bahwa vagina Suryani merah sekali dan kelihatan luka. Ibunya sangat terkejut dan “bertanya kenapa vaginanya sakit nak” , Suryani hanya bisa menangis dan menjawab “gak tahu buk”. Pertanyaan tersebut dengan sabar tetap diulang Ibunya. Hingga ibunya berkata “ibuk gak marah sama kamu nak, tapi kalau kamu gak mau jujur ibu pergi saja kerja ke luar negeri ya”. Setelah itu Suryani mengatakan kepada ibunya “burungnya mas Sigit dimasukkan ke memek Suryani buk” merasa sangat terkejut, Ibunya lansung membawa Suryani ke rumah sakit untuk melakukan visum.

Hasil visum menyatakan bahwa vagina Suryani telah mengalami luka karena tusukkan benda tumpul. Lukanya mengalami infeksi, sehinnga tetap terasa sakit hingga sekarang. Setelah itu dokter memberikan obat untuk luka di vagina Suryani. Malamnya keluarga Suryani mendatangi rumah Mbah Kung dan menyampaikan hal yang dilakukan Sigit cucunya terhadap Suryani. Sigit yang pada saat itu berada di rumah membantah apa yang dituduhkan kepadanya. Dengan mata melotot Sigit bertanya kepada Suryani “kapan aku melakukan itu ke kamu? Kalau memang aku melakukan beberapa bualn lalu,kenapa baru sekarang kamu bilang?” . Suryani hanya bisa diam, terjadi perdebatan antar dua keluarga yang masih bersaudara tersebut. Keluarga Mbah Kung membuat Suryani merasa terpojok karena Suryani mengatakan bahwa Sigit telah memperkosanya sewaktu bermain petak umpet sekitar bulan September 2017 lalu. Ketika itu Sigit yang juga peserta petak umpet mengajak Suryani untuk bersembunyi di dapur rumah Mbahnya lalu Sigit melakukan pemerkosaan terhadap Suryani.

Merasa anaknya terpojok, ayah Suryani lansung membawa anaknya pulang ke rumah. Merasa anak mereka sangat dirugikan, orang tua Suryani melaporkan kasus tersebut ke kantor Polsek terdekat.

Pertengahan Januari 2017. Sigit diamankan di Polsek terdekat rumahnya atas tuduhan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Peristiwa ini membuat heboh satu kampung karena keluarga Sigit bersikukuh bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi. Pro kontra komentar warga kampung dirasakan oleh kedua pihak keluarga tersebut. Beberapa warga meragukan keterangan Suryani. bahkan Penyidik Kepolisian meragukan keterangan Suryani dan bertanya kepada ibu Suryani “peristiwa itu gak ada yang menyaksikan Buk, siapa yang percaya kalau Sigit melakukannya?” mendengar itu ibu Suryani merasa marah dan berkata “Bapak juga gak melihat peristiwa itu, jadi gak tahukan Sigit berbohong atau tidak! Dia itu masih keluarga saya Pak, keponakan saya, masa saya menuduh keponakan saya dengan sembarangan”.

Kasus ini melibatkan banyak pihak karena pelaku sekaligus korban adalah kategori anak di bawah umur. Suryani dan Sigit dilakukan pemeriksaan secara psikologi secara baik untuk mengetahui kondisi psokilogis masing-masing anak tersebut.

Suryani merasa takut saat harus melakukan pemeriksaan di kantor kepolisian, namun berkat dukungan orang tua dan pendampingan yang baik dari pihak kepolisian, Suryani dapat memberikan keterangan dikepolisian.

Selama Persidangan Suryani didampingi oleh Pekerja Sosial, tim Psikologi agar Suryani merasa Percaya diri untuk memberikan keterangan sebagai saksi korban dipersidangan. Dengan dukungan yang besar dari orang tua, Suryani berani menyampaikan keterangannya di persidangan.

Tidak ada yang menyaksikan Peristiwa tersebut. Keterangan sebagai korban Suryani adalah satu-satunya kunci dalam proses persidangan, disamping saksi-saksi yang melihat bahwa anak-anak tersebut benar melakukan permainan petak umpet pada bulan September 2017 lalu.

Diragukan keterangannya kerap sekali dialami oleh korban pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya. Korban pemerkosaan sering sekali diragukan keterangannya ketika melaporkan peristiwa yang ia alami karena tidak ada yang menyaksikan peristiwa tersebut. Bahkan pihak kepolisian dalam beberapa kasus juga meragukan keterangan korban.

Orang tua Suryani berharap selanjutnya anaknya bisa menghilangkan trauma secara perlahan dengan dukungan keluarga dan masyarakat sekitar rumahnya sehingga anaknya tetap dapat melajutkan kehidupan yang lebih baik sama seperti anak lainnya.

NB: SEMUA NAMA ADALAH BUKAN NAMA SEBENARNYA

Korban Kekerasaan Seksual Juga Korban Keraguan

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *