620

Bahwa diketahui Maryono telah diincar sebagai Target Operasi (TO), maka seolah semakin memudahkan langkah polisi dalam menangkapnya dengan adanya signal berupa kaca depan mobil yang pecah. Proses pengejaran yang bermula di sore hari dari Ambuten tersebut ternyata tidak berakhir dengan sia-sia.

Setidak-tidaknya menjelang maghrib Polisi berhasil mengamankan rombongan 4 orang dengan mobil Xenia dan hasil kerjanya selama beberapa hari di daerah Sumenep. Dengan posisi yang sudah terkepung oleh mobil polisi, Maryono akhirnya membanting setir ke sungai dan masuklah mobil tersebut ke sungai. Tanpa perlawanan, Maryono dan 3 rekannya berhasil ditangkap dan diamankan di Polsek Sumenep.

Malam harinya, sekitar pukul 12 malam mengira akan dipindahkan ke Polres Sumenep, Maryono dan 3 rekannya dalam keadaan mata tertutup dan tangan terborgol dimasukkan ke mobil polisi. Pada saat itu, mereka ditempatkan pada mobil yang berbeda-beda. Akan tetapi, perkiraan mereka kali ini lagi-lagi tidak sesuai harapan. Mereka harus singgah di suatu tempat terlebih dahulu. Seperti di sebuah bangunan kosong atau pergudangan, mereka diturunkan dari mobil.

Dibawanya mereka ke tempat ini nampaknya telah direncanakan sebelum mereka singgah di Polres untuk menjalani penyidikan. Tubuh mereka tiba-tiba diturunkan dari mobil bagaikan tukang sampah yang menggulingkan sampah hasil pungutannya. Ditendang serta dihajar seolah menjadi pembuka perlakuan bagi mereka. Sama sekali tanpa perlawanan dari keempat lelaki malang ini, sebab sadar akan kesalahan yang dilakukan.

 

Entah selang berapa lam kemudian, tibalah pada perlakuan selanjutnya. Tiba-tiba tubuh merasakan sakit karena peluruh timah yang berhasil menembus kulit dengan mata yang masih tertutup lakban hitam. Tidak cukup sekali, 3 hingga 4 kali timah tersebut berhasil bersarang di kaki para lelaki tersebut. Disiram sprite yang berfungsi bagaikan alkohol dan plastik layaknya kasa untuk menghentkan dan menutup luka tembak di kaki mereka sebelum hingga akhirnya tiba di Puskesmas Arjasa.

Betapa kagetnya keluarga tersangka pada saat itu, khususnya keluarga Maryono. Pasalnya, Angel yang menyewa mobil atas permintaan ayahnya tidak mengetahui apabila mobil yang disewa digunakan untuk tindakan seperti ini. Sebab, sang ayah mengatakan untuk kepentingan menagih uang di Sumenep.

Sang istri, yakni Asteria Puspita Sari atau akrab disapa Sulastri juga sama sekali tidak tahu menahu. Pertama kali diketahui oleh Angel yang mendapat kiriman foto facebook dari temannya yang disana terdapat gambar ayahnya. Pun demikian, dengan istri Dodik yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan di pabrik dibuat kaget, jangankan aktivitas dia di luar kota, ketika berangkat ke Sumenep pun sang suami tidak berpamitan kepada istrinya.

Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang setidaknya dirasakan oleh istri para 4 tersangka, khusunya istri Maryono. Sebab, mobil yang disewa dengan jaminan 2 sepeda motor milik Maryono beserta BPKB nya, ternyata harus menanggung biaya kerusakan mobil. Pihak rental telah membuat kesepakatan dengan para keluarga tersangka terkait biaya yang harus dibayarkan terhadap mobil yang disewa, yaitu sebesar Rp. 5.000.000,-/bulan yang ditanggung oleh 4 tersangka.

Jadi, total biaya yang harus dibayarkan untuk mobil tersebut yaitu Rp. 15.000.000,-. Bahkan dalam perjalanannya, ketiga istri tersangka tidak bersedia untuk membayar biaya tersebut, sementara Sulastri juga perlu usaha untuk dapat membayar setiap bulannya lantaran kondisinya yang sudah tidak bekerja. Alhasil, Sulastri dan anaknya yang berumur 7 tahun berpindah tempat tinggal dengan menyewa kos. Dengan harapan, barang-barang di rumah lamanya dapat dijual dan bisa digunakan untuk mencicil tagihan setiap bulannya.

Tibalah pada proses persidangan dengan agenda rutinnya yakni pembacaan surat dakwaan, pemeriksaan saksi, pembelaan, hingga putusan. Tepat pada hari Kamis, 15 Februari 2017 putusan dijatuhkan oleh hakim yakni berupa pidana penjara selama 5 tahun bagi Maryono, Sapto, serta Alip dan 4 tahun bagi  Bayu sebab dialah yang satu-satunya bukan recidivis.Tuntutan dari jaksa yakni selama 6 tahun.

Di Lapas, Maryono menjalani hari-hari dengan tenang dan rajin beribadah, ia menulis pengalaman hidupnya selama ini setiap harinya. Ia mengatakan “saya menganggap sekarang saya tidak tinggal di lapas, namun di pondok pesantren. Pesantren tempat saya belajar memperbaiki diri dan memperdalam ibadah.”

NB: Semua Nama dan tempat bukanlah sebenarnya.

 

 

Akhir dari Legenda Pencurian Rumah Kosong ala Maryono, DKK (2)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *